Bangka BaratBeritaLaw&CrimeLokalNewsPenambangan

Jeritan Nelayan Air Lintang dan Benteng Kota Saat Dugaan Penyeludupan Timah Du-1545 Menghisap Nyawa Pesisir

72
×

Jeritan Nelayan Air Lintang dan Benteng Kota Saat Dugaan Penyeludupan Timah Du-1545 Menghisap Nyawa Pesisir

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Laut di pesisir Tempilang kini tidak lagi terdengar seperti doa. Ia lebih mirip keluhan panjang yang dipaksa diam di bawah suara mesin robin, dentuman ponton dan lalu lintas kapal-kapal kecil yang bergerak seperti pencuri malam.

Air yang dahulu bening dan memantulkan langit, kini keruh seperti masa depan nelayan yang pelan-pelan ditenggelamkan. Di Desa Air Lintang dan Benteng Kota, laut bukan lagi ibu yang memberi makan. Ia berubah menjadi tubuh tua yang terus dipereteli isi perutnya, sementara anak-anaknya hanya diminta menonton dari bibir pantai.

Di sana, setiap malam seperti memiliki rahasia.

Lampu-lampu kapal berpendar di tengah gelap. Karung-karung pasir timah diduga bergerak diam-diam dari kawasan laut DU-1545 milik PT Timah menuju jalur-jalur gelap yang disebut warga mengarah ke Tanjung Niur. Tidak ada teriakan. Tidak ada sirene. Tidak ada kegaduhan.

Hanya laut yang perlahan mati dalam senyap.

Masyarakat yang dipaksa terbiasa melihat perampokan berlangsung seperti rutinitas biasa.

“Kadang malam laut terang seperti pasar terapung. Orang kampung tahu ada aktivitas, tapi semua memilih menunduk,” ujar Ali (56), bukan nama sebenarnya, dengan mata yang memandang jauh ke horizon laut, Jumat (22/05/2026).

Tatapannya kosong. Seperti seseorang yang terlalu lama menyaksikan ketidakadilan sampai kehilangan tenaga untuk marah.

“Timah keluar terus. Kapal jalan terus. Tapi nelayan tetap miskin. Jadi sebenarnya siapa yang sedang disejahterakan?” katanya lirih.

Di Tempilang, timah memang selalu punya dua wajah.

Di atas meja-meja rapat, ia disebut aset negara.

Di kampung-kampung nelayan, ia sering terasa seperti kutukan yang datang membawa keruh, konflik dan ketakutan.

Sebab di balik kilau pasir timah yang harganya mampu membangun gedung-gedung besar dan memperkaya rantai distribusi, ada jaring nelayan yang pulang kosong. Ada solar yang habis tanpa hasil. Ada anak-anak pesisir yang mulai meninggalkan laut karena merasa profesi nelayan tidak lagi punya masa depan.

Speed Boat diduga digunakan oleh para penyelundup timah di kawasan tambang laut PT.Timah Du-1545

Laut mereka perlahan berubah menjadi halaman industri yang dijaga kepentingan besar, sementara masyarakat pesisir hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

“Dulu kami melaut dekat pantai saja cukup. Sekarang ikan seperti ikut pergi bersama timah,” ujar seorang nelayan lainnya.

Ia tertawa kecil setelah berkata demikian. Tawa yang terdengar lebih seperti rasa putus asa.

Warga menduga aktivitas pengangkutan pasir timah dari kawasan DU-1545 tidak seluruhnya berjalan melalui jalur resmi. Mereka bercerita tentang kapal-kapal kecil yang bergerak malam hari, titik-titik pengumpulan pasir timah di pesisir tersembunyi, hingga distribusi darat menuju wilayah lain.

Cerita-cerita itu beredar dari warung kopi ke dermaga. Dari bibir pantai ke dapur rumah-rumah kayu nelayan.

Namun seperti ombak yang pecah lalu hilang, dugaan-dugaan itu seakan lenyap tanpa jawaban.

Tidak ada penjelasan yang benar-benar memadamkan keresahan warga.

Tidak ada ketegasan yang mampu menghapus kecurigaan masyarakat pesisir bahwa laut mereka sedang dijadikan ladang rebutan oleh tangan-tangan yang lebih kuat dari suara nelayan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!