Bangka BaratBeritaHukumLingkunganLokalNews

Jalan Raya Hanya Jarak Lima Meter di Parit 4 Digali Tambang, Warga Hidup di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan

74
×

Jalan Raya Hanya Jarak Lima Meter di Parit 4 Digali Tambang, Warga Hidup di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim Investigasi

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Aspal itu masih ada. Belum putus. Belum ambruk. Belum pula menelan korban. Tetapi warga Dusun Parit 4 memahami satu hal yang sering diabaikan para pemegang kuasa bahwa bencana besar selalu dimulai dari retakan kecil yang sengaja dianggap biasa.

Di sisi jalan utama penghubung desa-desa di Kecamatan Parit Tiga, tanah terus dikeruk siang dan malam. Hanya sekitar lima meter dari bibir aspal, mesin-mesin tambang ponton meraung tanpa rasa bersalah. Suaranya memecah ketenangan kampung seperti peringatan yang tidak pernah benar-benar didengar pemerintah.

Dari kejauhan, jalan itu tampak masih kuat. Kendaraan masih lalu lalang. Anak-anak sekolah masih melintas dengan seragam lusuh dan tas yang menggantung di punggung kecil mereka. Petani masih membawa hasil kebun menggunakan motor tua yang bergetar di atas jalan yang mulai kehilangan pijakan.

Namun di bawah permukaan, tanah penyangga jalan perlahan sekarat.

Warga melihat sendiri bagaimana sisi badan jalan mulai terkikis. Retakan kecil muncul seperti luka yang dipaksa tetap tersenyum. Setiap hujan turun, kecemasan ikut membesar. Mereka takut suatu pagi jalan itu tidak lagi bisa dilewati, atau lebih buruk, ambruk tepat ketika warga sedang melintas.

“Kalau nanti longsor dan ada korban, siapa yang mau tanggung jawab? Jangan tunggu ada mayat baru sibuk turun ke lokasi,” ujar seorang warga dengan nada getir, Minggu (24/05/2026).

Kalimat itu terdengar seperti jeritan yang terlalu lama ditahan.

Sebab di Parit 4, warga bukan hanya takut pada longsor. Mereka juga takut pada sesuatu yang lebih mengerikan tentang rasa bahwa hukum bisa lumpuh ketika berhadapan dengan kepentingan.

Nama-nama mulai beredar dari mulut ke mulut. Disebut pelan. Dibisikkan hati-hati. Warga menduga aktivitas tambang tersebut memiliki kedekatan dengan oknum aparat dan oknum wartawan. Dugaan itu menjelma menjadi tembok ketakutan yang membuat masyarakat memilih diam daripada berhadapan dengan risiko yang tidak mereka pahami ujungnya.

Di kampung kecil, rasa takut menyebar lebih cepat daripada asap mesin ponton.

Tidak ada warga yang benar-benar merasa aman ketika berbicara. Bahkan untuk sekadar mengeluh tentang jalan yang terancam longsor, mereka harus memastikan siapa saja yang sedang mendengar.

“Sudah lapor ke kecamatan. Sudah ke Pol PP. Sudah ke DPRD juga. Tapi tambang tetap jalan. Kami jadi berpikir, sebenarnya negara ini masih ada atau tidak untuk rakyat kecil?” kata warga lainnya.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada suara mesin tambang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!