Penulis: Icalicul
SUNGAISELAN, Berita5.co.id — Di balik hamparan kebun sawit yang kini menghijau di kawasan Hutan Produksi (HP) dan Hutan Lindung (HL) Kecamatan Sungai Selan, tersimpan cerita panjang tentang pembiaran, dugaan kolusi, dan absennya negara.
Warga Dusun Rek-Rek, Desa Munggu, dan Pangkal Raya tak lagi hanya berbicara soal hutan yang hilang, tetapi juga tentang satu nama yang disebut-sebut masih bebas beroperasi, dialah Nanang.
Menurut pengakuan warga setempat, Nanang diduga berperan sebagai pengurus sekaligus penanggung jawab alat berat yang hingga kini masih bekerja di kawasan hutan negara.
Dua unit excavator—PC 80 dan PC 50—disebut masih aktif membuka dan merapikan lahan di wilayah yang secara hukum tidak boleh disentuh.
“Sekarang ini yang masih berani merambah hutan HP dan HL ya Nanang. Dia yang bertanggung jawab alat berat. Dia juga berkoordinasi dengan APH. Tapi tidak ada tindakan tegas. Jadi kami ini harus lapor ke siapa?” ujar seorang warga Rek-Rek dengan nada putus asa.
Pernyataan itu membuka tabir persoalan yang lebih besar, mengapa aktivitas perambahan hutan yang terang-benderang justru seolah kebal hukum?
Alat Berat Bekerja, Aparat Menghilang
Perambahan hutan di Sungai Selan bukan peristiwa baru.
Warga menyebut praktik jual beli lahan di kawasan HP dan HL telah berlangsung bertahun-tahun, dilakukan secara sistematis, dan kini bahkan telah menghasilkan kebun sawit yang memasuki masa panen.
Namun, hingga hari ini, tidak terlihat penindakan berarti dari aparat penegak hukum (APH).
Keberadaan alat berat di kawasan hutan seharusnya menjadi bukti awal yang cukup untuk bertindak. Excavator bukan benda yang bisa disembunyikan.
Aktivitas pembukaan lahan skala besar mustahil berlangsung tanpa diketahui.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah APH tahu, melainkan mengapa APH membiarkan.
Warga menduga, pembiaran ini tidak berdiri sendiri.
Ada relasi, ada komunikasi, dan ada kepentingan yang membuat hukum kehilangan taringnya.
Dugaan koordinasi antara pengelola lapangan dan aparat menjadi bisik-bisik yang semakin keras terdengar di tengah masyarakat.












