PANGKALPINANG, Berita5.co.id – Sebuah badai politik menerjang Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Provinsi Bangka Belitung.
Ketua DPW PPP Babel, Heliana, yang juga dikenal sebagai tokoh politik berpengaruh di daerah tersebut, kini menghadapi persoalan hukum serius: penetapan sebagai tersangka atas dugaan penipuan terhadap kamar hotel yang dilaporkan oleh Adelia, seorang kader yang juga menduduki posisi penting dalam kepengurusan partai.
Kasus ini bukan hanya sekadar persoalan hukum, melainkan drama internal partai yang mengancam soliditas dan citra PPP Babel di mata publik.
Menyikapi situasi yang pelik ini, DPW PPP Babel menggelar rapat konsolidasi partai dan menunjuk Amri Cahyadi sebagai juru bicara untuk menyampaikan sikap resmi.
Amri Cahyadi, dengan nada prihatin, mengungkapkan keterkejutan dan kekecewaan keluarga besar PPP atas penetapan tersangka terhadap Heliana.
“Mendengar pemberitaan penetapan tersangka Hellyana, walaupun beliau dilaporkan secara pribadi tetapi jabatan sebagai Ketua PPP Babel melekat pada diri beliau, pastinya kami keluarga besar PPP terkejut, prihatin, sedih, dan sangat terpukul,” ujarnya.
Amri Cahyadi menjelaskan bahwa persoalan ini bermula dari dugaan hutang piutang antara Heliana dan Adelia yang menurutnya bernilai relatif kecil, sekitar Rp 22 juta.
Ia mempertanyakan mengapa persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan secara perdata justru berujung pada ranah pidana, apalagi mengingat pengorbanan dan investasi politik yang telah dikeluarkan Heliana untuk membesarkan partai.
“Apalagi mau mengorbankan citra, nama baik, keluarga, dan jabatannya untuk angka sekecil itu, jika beliau memang betul-betul tahu itu adalah hutang dan menjadi tagihan beliau,” imbuhnya, seolah meragukan adanya unsur kesengajaan dalam kasus ini.
Namun, yang menarik perhatian adalah fakta bahwa Adelia, sang pelapor, juga merupakan bagian dari keluarga besar PPP yang diajak bergabung oleh Heliana dan difungsikan sebagai administrator kantor partai.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang motif di balik pelaporan tersebut dan memunculkan spekulasi tentang adanya intrik politik internal yang lebih dalam.
“Sebagai satu keluarga besar PPP, pastinya kita tidak mau pihak luar (kompetitor politik) bertepuk tangan riang gembira menyambut persoalan internal kita sebagai berkah bagi mereka,” tegas Amri Cahyadi, menyiratkan kekhawatiran akan dimanfaatkannya kasus ini oleh lawan politik.
Di tengah pusaran persoalan yang semakin rumit, PPP Babel berupaya untuk mencari solusi terbaik yang dapat menjaga marwah partai dan memberikan keadilan bagi semua pihak.
Menghormati proses hukum yang sedang berjalan, PPP Babel berharap agar pihak kepolisian dapat memberikan kebijakan yang lebih arif dengan meninjau kembali penyelesaian perselisihan ini melalui pendekatan persuasif, mediatif, dan kekeluargaan.












