Bangka BaratLokalPemerintahanSastra & Film

Evi Astura Resmikan FLS3N Bangka Barat: Pendidikan Menumbuhkan Jiwa Yang Percaya Pada Mimpinya

62
×

Evi Astura Resmikan FLS3N Bangka Barat: Pendidikan Menumbuhkan Jiwa Yang Percaya Pada Mimpinya

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di tengah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi Gedung Graha Aparatur Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Senin (11/5/2026), seorang ibu berdiri di hadapan ratusan anak dengan tatapan yang teduh namun penuh keyakinan. Ia tidak sedang berbicara tentang ranking sekolah, angka kelulusan ataupun deretan prestasi administratif pendidikan.

Ia sedang berbicara tentang keberanian.

Tentang anak-anak kecil yang gemetar membawa puisi.

Tentang siswa-siswa desa yang memberanikan diri berdiri di atas panggung.

Tentang mimpi-mimpi sederhana yang selama ini tumbuh diam-diam di ruang kelas, di rumah-rumah kecil dan di sudut kampung Bangka Barat.

Di hari itu, Bunda PAUD Kabupaten Bangka Barat, Evi Astura Markus, resmi membuka Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SD dan SMP tingkat Kabupaten Bangka Barat Tahun 2026. Namun lebih dari seremoni pembukaan, kehadirannya menjelma menjadi simbol bagaimana pendidikan seharusnya dipeluk dalam manusiawi, hangat dan memberi ruang kepada setiap anak untuk percaya pada dirinya sendiri.

“Menang atau kalah adalah hal biasa dalam pertandingan, namun keberanian kalian untuk tampil dan berkarya adalah kemenangan yang sebenarnya,” ucap Evi Astura.

Kalimat itu tidak terdengar seperti pidato formal pemerintahan.

Ia terdengar seperti suara seorang ibu yang sedang menjaga keberanian anak-anaknya agar tidak runtuh oleh rasa takut.

Mungkin itulah sebabnya tepuk tangan panjang memenuhi ruangan.

Sebab di tengah dunia pendidikan yang sering kali terlalu sibuk mengejar angka, Evi Astura justru berdiri membawa pesan yang berbeda bahwa anak-anak tidak boleh kehilangan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.

Di bawah kepemimpinan dan perhatian Evi Astura sebagai Bunda PAUD Bangka Barat, FLS3N tidak diposisikan sekadar agenda tahunan lomba seni dan sastra. Festival itu dipandang sebagai ruang pembentukan karakter, tempat anak belajar tentang disiplin, proses, keberanian, kreativitas, hingga penghargaan terhadap budaya bangsa.

Ia memahami bahwa tidak semua anak lahir untuk menjadi juara olimpiade matematika atau pemegang nilai tertinggi di kelas. Sebagian anak menemukan dirinya dalam tarian. Sebagian menemukan suaranya dalam musik. Sebagian lain tumbuh melalui puisi, gambar, dongeng dan panggung seni.

Pemkab Bangka Barat, menurut Evi Astura, harus hadir memberi ruang untuk semua bentuk kecerdasan itu.

“Ini bukan hanya ajang kompetisi. Ada ketekunan, ada keberanian dan ada proses panjang yang dijalani anak-anak kita. Mereka yang berdiri di tingkat kabupaten ini sesungguhnya sudah menjadi pemenang,” katanya.

Narasi pendidikan yang dibawa Evi Astura terasa berbeda karena lahir dari pendekatan yang lembut namun kuat. Ia tidak hanya berbicara tentang peserta lomba, tetapi juga tentang orang tua dan guru yang selama ini menjadi fondasi tumbuhnya keberanian anak-anak Bangka Barat.

Di tengah pidatonya, ia beberapa kali memberikan penghormatan kepada para ibu dan ayah yang rela meluangkan waktu mendampingi latihan anak-anak mereka. Baginya, keberhasilan seorang anak selalu lahir dari cinta yang bekerja diam-diam di belakang layar.

“Terima kasih kepada ayah dan bunda yang telah mendukung anak-anaknya. Kita tahu tidak mudah mendampingi mereka latihan setiap hari. Ada kesabaran dan kasih sayang besar di sana,” tuturnya.

Tidak berhenti di situ, Evi Astura juga menempatkan guru sebagai penjaga mimpi generasi muda Bangka Barat.

Ia menyadari bahwa di balik keberanian seorang anak tampil di atas panggung, ada guru-guru yang setia melatih, membimbing dan terus menyemangati muridnya bahkan ketika fasilitas sering kali terbatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!