Hujan tahun kemarin membawa angin kenangan yang masih tersimpan. Foto di beranda membuat saya teringat, akhir tahun kemarin bebukitan pinggiran kampung kakek membawa serasa kembali pada pelukan damai itu. Sepatu yang pernah kakek berikan masih saya pakai. Paling tidak menakar dan jadi lambaran rindu kami pada sebuah tempat yang selalu ayah ceritakan.
Tidak ada setangkaipun yang mampu mengalahkan mawar di taman sengaja dihantar. Agar kami mengenang kebersamaan sama halnya ketika di kampung kakek menyalami satu persatu tanda suka di beranda.
Tapi kini kami hanya bisa meratap berkardus-kardus bantuan itu bisa sampai ke sana. Dari warta ke warta, kami berharap kabar baik dari keluarga tercinta kami yang jauh di sana. saya masih berharap, suatu waktu bisa kembali. Mengharap pelukan dan mencium tangan sanak saudara di sana.
Laras masih berharap mendapat hadiah peringkat kelas dari kakek dan nenek di kampung. Piagam di tangannya ia pegang setelah pulang dari sekolahnya, tapi yang ia dapat adalah kabar duka. Kampung kakek sekarang larut terbawa banjir yang turun dari Gunung.
Sebenarnya kali ini adalah waktunya menepati janji setelah ia mengalahkan anak kepala sekolah saat perebutan juara kelas.
Dengan piagam dan piala kecil di tangannya ia akan sangat bangga membawanya pulang kampung ke rumah kakek dan nenek. Tidak seperti tahun kemarin saat Laras menangis karena hanya mendapat juara dua di kelasnya.
Laras menatap layar di gawai saat air bah meluluhlantakkan harapan dan kenangan yang ingin kemi pupuk saat liburan ini.
Beranda media sosial masih membisikan, seakan menggandeng tangan ke kami kampung halaman kakek. Hujan rintik yang membawa makna, menarik kami seperti kembali ke pangkuan beta.
Belaian tangan kakek saya harap masih mampu meredakan beratnya hidup di rantau. Liburan tahun kemarin memang turun hujan, namun bukanlah hujan yang menghilangkan harapan untuk liburan.
Demikian halnya dengan Laras. Seragamnya belum juga ia tanggalkan, masih terpakai rapi, namun jilbab yang ada sedikit noda saus itu basah dengan setetes dua tetes air mata. Meski mendapat juara kelas, Laras kali ini tak liburan ke rumah kakek. Sampai sekarang kabar tentang kakek tak terdengar.
Apakah mengungsi, apakah kiranya kakek bisa ditemukan? Lalu masih sehatkah beliau? Bagaimana dengan kampung halaman yang sekarang sudah tertimbun tanah itu? Tempat ayah kini dibesarkan terlanda bencana.
Hujan tahun ini beda dengan tahun kemarin. Tangan-tangan jahat yang menebang pohon membuat kami seakan berdiri di atas jarum. Negeri kakek yang hijau kini berubah jadi lautan lumpur jahat.
Jembatan tempat lewat ke kampung pun sudah ikut hanyut. Jika ada keinginan ke sana, tentu kami tak bisa lagi lewat. Saya hanya bisa menghibur Laras yang wajahnya sendu.
Kata Ustadzah Suci, banjir itu karena kita tidak menyayangi pohon. Tanah yang harusnya dicengkram oleh pepohonan di gunung akhirnya ditebang liar. Kata beliau, Orang-orang tak berperasaan itu hanya berpikir keuntungan. Ada yang membuka lahan untuk sawit, kentang, hingga tak melihat guyuran besar hujan membawa kampung halaman kekek jadi lautan lumpur.
“Di sana surganya kerusakkan alam dan hutan. Tak hanya pepohonan yang ikut larut, binatang tidak akan mendapat perlindungan dan suaka lagi di sana. Entah berapa ribu spesies yang kehilangan tempat berteduh dan tumbuh kembang. Semua karena tangan-tangan rakus yang tak membuka hati untuk keberlangsungan masa depan!”
Laras masih menatap layar gawainya dengan sendu. Di sana ia melihat Ustadzah Suci berbicara lewat saluran sekolah. Beliau memberi pesan pada anak didiknya yang akan menghadapi liburan sekolah agar berperilaku sayang pada lingkungan.
Suara Ustadzah menyatu dengan tayangan kampung-kampung yang hilang karena banjir bandang.
Air bah yang menghanyutkan kampung kakek membuat ia semakin bersemangat menonton. Dia tak menyangka, perjuangan mendapat peringkat satu gagal karena satu kata, yaitu banjir.













