Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
MENTOK, Berita5.co.id — Setiap awal tahun, laut seperti datang mengetuk pintu warga Desa Belo Laut.
Ia tidak berteriak, tidak pula mengamuk. Ia hanya naik perlahan, menembus halaman, lalu masuk ke ruang tamu, dapur dan kamar tidur.
Jumat (9/1/2026), air rob setinggi hingga 50 sentimeter kembali merayap ke puluhan rumah di Dusun II dan III, menjadikan garis pantai tak lagi jelas seolah desa ini memang ditakdirkan hidup setengah darat, setengah laut.
Bagi warga Belo Laut, banjir rob bukan lagi kejutan.
Ia telah menjadi ritme tahunan, hadir bersamaan dengan hujan dan pasang laut, lalu pergi meninggalkan lumpur, bau asin dan kelelahan yang diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya.
Di sini, bencana tidak datang tiba-tiba, tetapi ia datang perlahan, berulang dan dibiarkan menjadi biasa.
Air naik, surut, lalu naik kembali. Sementara itu, kebijakan tampak berjalan melingkar mengulang imbauan yang sama, di waktu yang hampir sama, dengan hasil yang juga sama, yaitu genangan yang tak pernah benar-benar ditangani hingga ke akarnya.
Di tengah rumah yang terendam, warga memilih bertahan.
Bukan karena mereka kebal terhadap risiko, melainkan karena bertahan adalah satu-satunya pilihan yang tersedia.
“Air naik keras, tapi kami tetap di rumah karena ini kampung kami. Apa boleh buat, tetap berusaha menjaga barang,”
ujar seorang warga, sambil mengangkat kursi plastik yang kakinya sudah terendam air asin.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan kenyataan pahit bahwa bertahan telah lama menggantikan perlindungan dan ketahanan warga perlahan dijadikan alasan untuk menunda tanggung jawab yang lebih besar.
Secara ilmiah, penyebab banjir rob di Belo Laut sudah lama diketahui. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fase Perigee dan Bulan Purnama meningkatkan pasang air laut, yang kian berisiko ketika bertemu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Bahkan, peringatan potensi banjir rob di Bangka Belitung telah disampaikan hingga 10 Januari 2026.
Namun, di Belo Laut, pengetahuan ilmiah itu seolah berhenti di meja rilis pers. Ia tidak menjelma menjadi tanggul yang kokoh, saluran drainase yang lapang, atau sistem peringatan dini yang betul-betul menjangkau warga. Sains hadir sebagai informasi, bukan sebagai perlindungan.
Sejumlah penelitian menyebut banjir rob sebagai compound flooding peristiwa kompleks akibat perpaduan pasang laut, hujan, gelombang dan buruknya sistem drainase.
Di Belo Laut, istilah akademik itu menjelma nyata menjadi air laut masuk dari depan, air hujan menggenang dari belakang, sementara saluran air yang sempit menjadi saksi bagaimana perencanaan ruang kerap kalah cepat dari pembangunan tanpa arah.
Di atas semua itu, perubahan iklim menambah lapisan masalah.
Kenaikan muka laut dan penurunan permukaan tanah membuat rumah-rumah warga kian rendah dibanding laut di depannya.
Perlahan, daratan menyusut, sementara laut terus mengambil ruangnya kembali tanpa pernah ditanya apakah manusia siap atau tidak.













