Babel hari iniBangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNews

Dari Pelosok Kundi, Yogyakarta ke Ka’bah: Zizi dan Kemenangan Seorang Anak untuk Ibunya dari Usaha Jualan Sayur

51
×

Dari Pelosok Kundi, Yogyakarta ke Ka’bah: Zizi dan Kemenangan Seorang Anak untuk Ibunya dari Usaha Jualan Sayur

Sebarkan artikel ini

Oleh: Belva Al Akhab dan Tim

YOGYAKARTA, Berita5.com – Di suatu pagi yang sederhana di Yogyakarta, ketika kota belum sepenuhnya bangun dari lelapnya, seorang pemuda sudah berdiri di depan rak sayur. Tangannya cekatan, matanya tajam membaca pesanan yang terus masuk. Telepon genggamnya bergetar tanpa henti. Di balik kesibukan itu, ada satu hal yang tak pernah ia lepaskan adalah niat.

“Dulu saya cuma punya satu pikiran. Bagaimana usaha ini bisa jalan bukan untuk saya, tapi supaya saya bisa membahagiakan ibu.” ujar Zizi Alqoorni, suaranya pelan namun tegas.

Kalimat itu sederhana. Tapi dari sanalah, sebuah cerita besar dimulai.

Zizi lahir bukan dari pusat kota, bukan dari keluarga dengan akses luas. Ia adalah anak bungsu dari Desa Kundi, Bangka Belitung. Sebuah tempat yang bahkan jarang masuk dalam peta mimpi anak muda Indonesia.

Tahun 2019, ia pergi. Bukan sekadar merantau, tetapi membawa satu tekad yang nyaris nekat untuk mengubah garis hidup.

Di Yogyakarta, ia menempuh pendidikan S1 Ekonomi Islam di UII. Ia bukan mahasiswa yang hidup nyaman. Ia bertahan. Ia menahan. Ia belajar.

Pada 2023, ia lulus dengan cumlaude.

“Waktu itu saya pikir mungkin ini sudah cukup. Tapi ternyata, hidup belum mulai.” jelasnya.

Oktober 2023. Tidak ada perayaan. Tidak ada investor. Tidak ada jaminan.

Hanya Rp 2 juta di tangan dari hasil lomba penelitian.

Zizi membuka warung sayur kecil.

Ia membangun semuanya sendiri. Dari nol. Dari kayu, dari keringat, dari rasa takut yang ia telan setiap malam.

“Semua saya lakukan sendiri. Chat supplier, bangun rak, jaga toko, sampai delivery 24 jam. Kadang saya tidur cuma 2 jam. Kadang nggak tidur sama sekali.” katanya.

Tidak ada yang tahu betapa beratnya fase itu.

Di titik paling rapuh itu, hadir seseorang.

Zizi menyebutnya sederhana dengan sebutan bunga Jogja.

“Setiap pagi dia datang bawa sarapan. Dia bantu jaga toko, bantu mikir, bahkan ikut delivery, padahal dia juga lagi S2.” kenangnya, matanya sedikit berkaca.

Dalam dunia yang sering memuja kesuksesan individu, kisah ini justru membuka satu rahasia bahwa tidak ada keberhasilan yang benar-benar sendiri.

“Kalau orang lihat saya sekarang, mereka nggak lihat dia di belakang saya. Padahal tanpa dia, mungkin saya sudah berhenti.” tambahnya.

Ketika usaha mulai tumbuh, Zizi mencoba melompat lebih jauh.

Juli 2024, ia mendirikan PT.
Agustus 2024, ia meluncurkan aplikasi.
Di bulan yang sama, ia membuka cabang di kota.

Semuanya diyatakan gagal.

“Jujur, itu titik paling berat. Saya pikir saya sudah benar ternyata belum.” katanya.

Kerugian datang. Harapan runtuh. Realitas menghantam tanpa ampun.

“Tapi saya ingat satu hal. Kalau saya berhenti, ibu saya tetap di sana dan saya belum bikin dia bahagia.” lanjutnya.

Zizi tidak memilih menyerah. Ia memilih turun.

Ia pergi ke Magelang. Ke Garut. Ke pelosok-pelosok yang bahkan tak dikenal banyak orang.

Ia duduk bersama petani. Mendengar. Belajar.

“Saya sadar, saya ini nggak tahu apa-apa. Jadi saya belajar langsung dari orang yang hidup di sana.” katanya jujur.

Dari tanah itulah, ia membangun ulang usahanya.

Bukan sekadar jual sayur. Tapi membangun sistem distribusi. Membangun kepercayaan.

Pasar Akhirnya Menunduk
Perlahan, sesuatu berubah.

Pesanan datang. Bukan satu dua. Tapi puluhan. Ratusan.

Restoran. Catering. Hotel. Toko besar.

Siang dan malam, transaksi tak berhenti.

“Alhamdulillah dari yang dulu nunggu pembeli, sekarang kami yang kewalahan,” ujarnya sambil tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!