Berita

Dari Masjid Agung Mentok, Pembangunan Dimulai dari Tangan Rakyat Bangka Barat

61
×

Dari Masjid Agung Mentok, Pembangunan Dimulai dari Tangan Rakyat Bangka Barat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Belva Al Akhab, Satrio, dan Tim

MENTOK, Berita5.co.id — Pagi itu, Masjid Agung Baiturrahman Mentok tidak hanya menjadi tempat sujud dan doa. Ia menjelma ruang sosial, ruang negara, ruang peradaban.

Di antara karpet merah yang terbentang rapi, lantunan ayat suci yang mengalun pelan dan wajah-wajah rakyat kecil yang duduk bersila dengan harap, pembangunan menemukan bentuknya yang paling jujur yaitu zakat yang bekerja dalam keheningan.

Tidak ada baliho raksasa. Tidak ada spanduk proyek. Tidak ada pidato berlapis jargon teknokratis. Yang ada hanyalah tangan-tangan yang saling menyentuh, tubuh-tubuh renta yang diperiksa kesehatannya dan anak-anak yang menunduk khusyuk menggambar ayat-ayat suci dengan kuas kecil mereka.

Hari itu, Selasa (20/01/2026), bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-25 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia, negara tidak datang sebagai kekuasaan yang berdiri di atas podium. Ia turun, duduk sejajar, menyapa dan melayani.

Di Mentok, zakat tidak sekadar dibagikan.
Ia dihidupkan.

Di barisan depan, Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, berdiri mewakili Bupati Bangka Barat. Namun pagi itu, ia tidak hanya berbicara sebagai pejabat struktural. Ia hadir sebagai simbol negara yang sedang belajar mendengarkan.

“BAZNAS telah menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan, serta layanan kesehatan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan resmi.

Kalimat itu terdengar formal, namun realitas di lapangan membuatnya memperoleh makna yang lain. Di sela acara, Wakil Bupati tampak menggenggam tangan seorang penerima zakat. Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian sederhana, wajahnya menua sebelum waktunya oleh beban hidup.

Tatapan lelaki itu menunduk. Bukan karena takut. Bukan pula karena inferior. Tetapi karena rasa hormat yang jarang ia rasakan dari negara.

Di momen singkat itu, relasi kuasa dibalik.
Negara hadir melayani, bukan dilayani.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, kata Wakil Bupati, berkomitmen penuh mendukung BAZNAS agar zakat, infak, dan sedekah dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran. Ia mengajak aparatur sipil negara, pelaku usaha, serta masyarakat luas menyalurkan zakat melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi negara.

Ajakan itu bukan sekadar moral, tetapi politik kebijakan dalam membangun kepercayaan publik agar zakat menjadi instrumen pembangunan sosial yang nyata.

Di sisi lain masjid, Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Guntur Budi Wibowo, menyampaikan pesan yang lebih tajam, hampir ideologis bahwa zakat tidak boleh berhenti sebagai amal karitatif sesaat.

“Zakat harus ditempatkan sebagai alat perubahan struktural. Ia bukan hanya kewajiban ritual, tetapi instrumen negara untuk mengangkat martabat rakyat dan mengurangi ketimpangan,” tegasnya.

Kurang dari dua bulan sejak mulai aktif, BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan tiga kali penyaluran zakat, dengan 260 mustahik sebagai penerima manfaat. Seluruh data penerima diserahkan kepada pemerintah daerah sebuah praktik transparansi yang jarang disentuh dalam diskursus zakat publik.

“Kami ingin publik tahu, zakat tidak hilang di laporan. Ia hadir di kehidupan nyata,” ujar Guntur.

Apa yang berlangsung di Mentok memperlihatkan model tata kelola sosial yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.
Pemerintah sebagai penopang kebijakan dan legitimasi, BAZNAS sebagai mesin distribusi keadilan.

Di barisan penerima zakat, Siti Rahmah (56) duduk tenang. Tangannya menggenggam amplop putih berisi bantuan zakat. Di atas kertas, ia hanyalah satu nama dalam daftar mustahik. Namun di dunia nyata, ia adalah seorang ibu yang bertahan hidup dengan ketabahan yang tidak pernah tercatat dalam laporan pembangunan.

Suaminya meninggal lima tahun lalu. Sejak itu, ia menjual kue kecil di depan rumahnya di pinggir Mentok. Penghasilannya tidak menentu. Kadang cukup untuk makan. Kadang tidak.

“Bukan soal uangnya saja. Tapi hari ini saya merasa diperhatikan.” katanya.

Ia mengaku jarang menghadiri acara resmi. “Biasanya kami cuma dengar di radio. Tapi hari ini, kami diajak masuk masjid, dipanggil namanya, ditanya kabarnya.” tambahnya.

Bagi Siti, zakat hari itu bukan sekadar bantuan ekonomi.
Ia adalah pengakuan bahwa ia ada, bahwa hidupnya berarti.

Di sudut lain masjid, layanan kesehatan gratis berjalan. Sejumlah lansia duduk sabar menunggu giliran. Petugas medis mencatat tekanan darah, memeriksa gula darah, dan membagikan obat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!