Oleh: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pagi di perkebunan sawit Desa Bulin, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, biasanya berjalan tanpa banyak kejutan. Hamparan pohon sawit membentang sejauh mata memandang. Jalan-jalan kebun yang lengang hanya dilalui para pekerja dan pemilik lahan yang memulai aktivitas sejak matahari belum terlalu tinggi.
Namun Kamis, 11 Juni 2026, suasana itu berubah.
Di salah satu sudut kebun, seorang pemilik lahan menemukan sosok pria dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuhnya tergantung pada sebatang pohon sawit. Penemuan itu segera dilaporkan kepada aparat kepolisian dan dalam hitungan waktu, kawasan yang semula dipenuhi petugas serta warga yang datang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Belakangan, pria tersebut diketahui berinisial YM (33), warga Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Pada awalnya, peristiwa itu tampak seperti kasus yang dapat dijelaskan dari kondisi korban saat ditemukan. Namun penyidik memilih tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
Mereka menemukan sejumlah hal yang dianggap memerlukan pemeriksaan lebih mendalam.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Kelapa untuk menjalani pemeriksaan awal oleh tim identifikasi dan tenaga medis. Dari pemeriksaan tersebut, muncul beberapa temuan yang kemudian mengubah arah penyelidikan.
Pada bagian dada kiri korban ditemukan memar yang diduga berasal dari benturan benda tumpul. Selain itu terdapat luka lecet pada beberapa bagian tubuh, termasuk kaki dan jari-jari tangan.
Temuan-temuan itu belum tentu berkaitan langsung dengan penyebab kematian. Namun bagi penyidik, kondisi tersebut cukup untuk memunculkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya melalui pemeriksaan luar.
Karena itu, kepolisian memutuskan membawa kasus ini ke tahap berikutnya autopsi.
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya sejumlah kondisi yang perlu didalami melalui pemeriksaan forensik,” ujar sumber yang mengetahui proses penyelidikan.
Keputusan melakukan autopsi menjadi langkah penting. Sebab dalam kasus kematian yang masih menyisakan berbagai kemungkinan, penyidik membutuhkan dasar ilmiah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Autopsi tidak hanya bertujuan mengetahui penyebab kematian. Pemeriksaan itu juga dapat membantu mengungkap waktu kematian, kemungkinan adanya kekerasan sebelum korban meninggal, hingga kondisi fisik korban menjelang ajal.
Di lokasi penemuan, garis polisi masih terpasang saat petugas melakukan olah tempat kejadian perkara.
Warga berdiri di kejauhan. Sebagian memperhatikan dengan diam. Sebagian lain saling bertukar cerita mengenai peristiwa yang menggemparkan desa mereka.
Tidak banyak yang mengenal korban.
Bahkan hingga proses identifikasi berlangsung, pertanyaan mengenai bagaimana seorang pria asal Garut bisa berada di kawasan perkebunan sawit di Bangka Barat masih menjadi teka-teki.
Penyidik mulai menyusun kepingan-kepingan informasi.
Mereka memeriksa lokasi penemuan, mengumpulkan barang bukti, meminta keterangan saksi dan mencoba menelusuri aktivitas terakhir korban sebelum ditemukan meninggal dunia.
Di tempat korban ditemukan, polisi juga mendapati tali yang diduga berasal dari hoodie dan melilit pada bagian leher korban. Namun keberadaan tali tersebut belum cukup untuk menjelaskan seluruh rangkaian peristiwa.












