Editor: Bangdoi Ahada
BANGKATENGAH, Berita5.co.id — Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) skala SMR/TMSR di Pulau Gelasa (Kelasa) Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memunculkan kekhawatiran besar.
Ancaman terhadap mata pencaharian nelayan, tekanan pada ekosistem pesisir dan laut dangkal (mangrove, terumbu karang), masalah pembuangan dan penumpukan limbah radioaktif jangka panjang, serta celah dalam proses sosialisasi dan tata kelola lokal menjadi momok menakutkan bagi masyarakat.
Banyak pihak menilai potensi manfaat energi lebih kecil dibanding risiko ekologis, sosial, dan ekonomi jika mitigasi tak benar-benar tuntas.
Masyarakat Bangka Tengah menuntut pemerintah lebih transparan dalam memberikan informasi.
Sosialisasi yang menyeluruh dianggap penting agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari pengambil keputusan.
“Kalau memang harus ada PLTN, kami ingin dilibatkan sejak awal. Jangan tiba-tiba bangun lalu kami disuruh terima risiko. Kami butuh jaminan keselamatan, bahkan kompensasi kalau nantinya ada dampak,” tegas Sulaiman, slaah satu nelayan Bangka Tengah
Solusi Energi yang Lebih Tepat untuk Kepulauan
Di tengah kekhawatiran itu, muncul wacana energi alternatif yang dinilai lebih cocok untuk wilayah kepulauan seperti Bangka Belitung.
1. Tenaga Surya
Dengan intensitas sinar matahari tinggi sepanjang tahun, panel surya menjadi solusi paling realistis. Energi ini ramah lingkungan dan bisa dipasang secara tersebar di pulau-pulau kecil.
2. Tenaga Angin Lepas Pantai (offshore wind)
Potensi angin laut yang konsisten dapat diubah menjadi listrik, sekaligus mendukung transisi energi bersih.
3. Biomassa dan Energi Sampah
Sisa hasil perkebunan kelapa sawit dan karet, yang banyak di Bangka Belitung, bisa diolah menjadi listrik berkapasitas menengah.
4. Tenaga Gelombang dan Pasang Surut Laut












