BANGKA Berita5.co.id – Desa Zed pagi itu, Sabtu (29/11/2025) seperti baru terbangun dari tidur panjangnya.
Kabut tipis bangkit perlahan dari lembah kelekak, pekarangan hutan kecil yang dulu menjadi nadi kehidupan di kampung sementara riak suara masyarakat yang mulai berdatangan ke halaman kantor desa menambah denyut baru bagi perkampungan tua di tepian Bangka Barat tersebut.
Tidak seperti hari-hari biasa, halaman kantor desa dipenuhi kursi plastik dan meja-meja panjang yang disiapkan seadanya.
Di depan, terpampang papan tulis besar, beberapa bibit tanaman aren, cangkul, tanah media, dan botol-botol kecil berisi nira kering sebagai contoh edukatif.
Hari itu, Desa Zed menjadi pusat perhatian. Untuk pertama kalinya, pemerintah desa, Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yayasan CIS, dan para peneliti tanaman aren berkumpul dalam satu agenda yaitu menghidupkan kembali budaya kelekak, membangkitkan ekonomi alternatif, dan menanam kembali tanaman aren sebagai simbol ketahanan pangan, energi, ekologi, dan sosial.
Sosialisasi yang awalnya diperkirakan sederhana, ternyata menjelma menjadi ruang kebangkitan kolektif.
Masyarakat datang mengalir dengan antusias, sebagian membawa anak, sebagian membawa buku catatan kecil.
Suasana yang semula lengang menjadi hiruk pikuk dengan rasa penasaran, harapan, dan juga nostalgia terhadap masa lalu yang perlahan hilang.
Laporan panjang ini merekam suara-suara itu, merangkai ulang potongan sejarah, potensi ekonomi, ancaman ekologis, dan masa depan desa yang kini memandang tanaman aren bukan lagi sekadar pohon liar di pinggir hutan, tetapi penyelamat yang selalu ada namun lama tidak dikenali.
Kepala Desa Zed, Mat Amin, membuka percakapan dengan nada getir namun optimis. Ia tahu betul perubahan yang dialami kampungnya.
Dalam wawancara di sela kegiatan, ia memulai dengan kalimat panjang yang disampaikan seperti seseorang yang menyimpan rindu yang sangat tua.
“Kelekak itu dulu banyak sekali di Kampung Zed. Di belakang rumah warga, di tepi sungai, di batas ladang, di banyak tempat. Tetapi sekarang… banyak yang hilang,” ujarnya sambil menatap barisan rumah yang kini lebih banyak dikelilingi oleh kebun sawit.
Kelekak, perkebunan campuran khas Melayu Bangka dulu menjadi tempat tumbuh aneka tanaman: aren, kabung, pinang, durian, duku, hingga rempah-rempah liar.
Ia bukan sekadar lahan; ia rumah pengetahuan. Namun kini, dari sekian luasnya, hanya beberapa titik menyisakan “napas terakhir” tanaman-tanaman tua.
“Kelekak yang masih hidup hanya ada di beberapa titik saja. Itu pun tidak terawat, seakan-akan menunggu putusan akhir,” lanjutnya.
Bagi generasi tua, hilangnya kelekak berarti hilangnya ruang hidup. Hilangnya sumber air tanah.
Hilangnya burung-burung kecil yang dulu singgah di pucuk aren ketika berbunga. Dan hilangnya identitas ekologis Melayu Bangka.
Tetapi hari itu, di Desa Zed, sebuah babak baru dimulai.
Muhammad Irsan, Pembina Yayasan CIS, berdiri di hadapan masyarakat dengan suara lantang namun penuh empati.
Ia membawa pesan penting: kembali ke alam, kembali ke akar budaya, kembali ke tanaman yang pernah menjadi sahabat masyarakat.
Kutipannya yang paling kuat, yang kemudian menjadi pembahasan panjang hari itu, adalah
“Menanami kembali tanaman zaman dulu akrab dengan kita. Tanaman yang lambat laun mulai tergerus dari generasi. Tapi ia tidak pernah hilang, kita saja yang berhenti melihatnya,” ujarnya.
Irsan kemudian menunjuk bunga aren yang sedang ia bawa, lalu menjelaskan sebuah fakta sederhana namun sangat memikat.
“Tanaman aren sangat menyengat aromanya ketika berbunga. Madu kelulut trigona sangat tertarik dengan bunga itu. Sebenarnya, kelekak adalah rumah bagi madu-madu itu.”
Ia kemudian membuka sebuah kotak kecil sarang madu kelulut trigona miliknya.
“Saya ini ternak kelulut trigona. Madu ini digunakan sebagai obat. Kalau ada aren, ada bunga, ada kelulut. Ada kelekak, ada madu. Kita bisa padukan antara budidaya aren, madu, dan ekonomi ekologis.”
Kalimat itu menjadi pembuka wawasan baru bagi masyarakat Zed.
Tidak semuanya tahu bahwa aren, kelekak, dan madu trigona adalah satu ekosistem yang tidak dapat dipisahkan.
Bahwa hilangnya satu berarti runtuhnya yang lain.
Irsan kemudian menambahkan.
“Aren itu bukan hanya kayu atau pohon tinggi. Ia sumber hilirisasi: gula aren, air nira, madu, bahkan energi. Pekarangan kita bisa hijau kembali kalau kita tanami aren. Mari kita kuatkan kembali ekonomi dan ekologinya.”
Hari itu, banyak mata warga yang berbinar. Mereka seperti menemukan harta karun lama yang selama ini tersimpan di halaman rumah sendiri.
Di sesi berikutnya, suara birokrasi hadir dengan bahasa yang lembut namun jelas. Nurul Ichsan, S.T., M.Si., peneliti Bappeda Provinsi Bangka Belitung, mengambil posisi di depan warga.
Berbeda dari gaya ceramah biasanya, Ia menyampaikan paparan seperti bercerita tentang masa depan yang harus diperjuangkan bersama.
“Kami dari provinsi mencari nilai ekonomi alternatif. Salah satunya adalah pengolahan tanaman kelekak yaitu aren,” katanya membuka presentasi.
Menurutnya, sudah terlalu lama masyarakat bergantung pada satu jenis komoditas.
Ketergantungan pada sawit menciptakan ketidakstabilan pendapatan, terutama ketika harga turun.
“Penelitian tentang tanaman aren ini menarik, karena ia punya dua kekuatan: nilai ekonominya jelas, tapi nilai ekologinya jauh lebih kuat dari yang kita kira,” turunnya.
Ichsan kemudian menyinggung masalah utama yang kini terjadi.
“Tantangan terbesar bukan pada pasar. Pasarnya besar sekali. Tantangannya adalah: tanaman aren yang akan disadap sudah tidak ada. Dan penyadapnya pun hampir hilang.”
Desa Zed bukan satu-satunya yang mengalami situasi ini.
Banyak desa di Bangka Belitung kehabisan penyadap aren, karena tanaman berbunga pun sudah tidak tersisa.
Andai pun ada, jumlahnya tidak lagi mencukupi kebutuhan ekonomi.
Karena itu, kata Ichsan.
“Kami datang ke Desa Zed untuk sharing, sosialisasi, dan edukasi. Kami ingin tahu apa yang harus dikembangkan. Data dari desa-lah yang menentukan program mana yang tepat untuk masyarakat.”
Ia menutup sesi dengan harapan.
“Kami ingin program dari pusat turun tepat sasaran: ekonomi, ekologi, dan sosial. Aren adalah pintu ke arah itu.”
Masyarakat yang hadir mengangguk. Mereka tahu, mereka bukan hanya penerima program, tetapi bagian penting dari perubahan itu.
Sesi paling memikat hari itu datang dari sosok akademisi yang tutur katanya mengalir seperti sungai yang membawa sejarah, ilmu, dan masa depan: Dr. Slamet Wahyudi, S.Pd., M.Si.
Beliau membuka sesi dengan sebuah kisah kuno.
“Tanaman aren sudah disebutkan dalam Prasasti Talang Tuo. Aren, kelapa, dan pinang digunakan sebagai taman penyambut tamu raja. Ia tanaman kerajaan. Tanaman peradaban.”
Hening sejenak di halaman kantor desa. Bahkan yang muda pun mengangkat wajahnya.
Slamet lalu menjelaskan.
“Aren adalah tanaman tropis berjenis palm. Di Nusantara, kita memiliki dua jenis: aren dalam dan aren genjah. Keduanya punya nilai ekonomi sangat tinggi.”
Kemudian ia memaparkan fakta ekologis.












