AdvetorialBangka BelitungEdukasiLifestyleLingkunganLokalMelayuNewsOpiniPariwisataPemerintahanSosiologi

Agama dan Harmonisasi Umat Beragama: Menakar Peran Mahasiswa

×

Agama dan Harmonisasi Umat Beragama: Menakar Peran Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Putri Anggun

Bangka Belitung bukan hanya dikenal karena pantai dan kekayaan alamnya. Salah satu identitas sosial yang kuat di daerah ini adalah keberagaman masyarakatnya. Muslim, Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, dan pemeluk kepercayaan hidup dalam ruang sosial yang sama. Perbedaan etnis dan agama bukan sesuatu yang asing, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Nilai itu sering tercermin dalam ungkapan “ _Tongin Fangin Tjit Tjong_ ”, yang menggambarkan semangat hidup bersama di tengah keberagaman. Masyarakat berbeda latar belakang dapat berinteraksi di lingkungan tempat tinggal, sekolah, pasar, tempat kerja, hingga kegiatan sosial. Dengan kata lain, toleransi di Bangka Belitung bukan sekadar wacana, tetapi memiliki akar dalam pengalaman sosial masyarakat.

Data juga menunjukkan bahwa kerukunan di Bangka Belitung memiliki modal sosial yang kuat. Berdasarkan hasil Survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025 Kementerian Agama, Kepulauan Bangka Belitung mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama sebesar 85,41, sedangkan indeks nasional berada pada angka 77,89. Indeks tersebut mengukur tiga dimensi utama, yaitu toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan.

Namun, angka yang tinggi bukan alasan untuk berhenti menjaga kerukunan.

Kerukunan bukan warisan yang otomatis bertahan. Ia harus dirawat oleh setiap generasi.

Di sinilah mahasiswa memiliki posisi penting.

Mahasiswa hidup di ruang yang mempertemukan banyak latar belakang. Kampus bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang belajar hidup bersama. Mahasiswa bertemu dengan teman yang berbeda daerah, budaya, organisasi, bahkan keyakinan. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar menghormati, bukan alasan untuk membangun sekat.

Terlebih di era media sosial, tantangan keberagamaan tidak hanya terjadi di ruang nyata. Potongan video, informasi tanpa konteks, ujaran kebencian, dan konten provokatif dapat menyebar dalam hitungan detik. Jika tidak disikapi secara kritis, konflik yang sebenarnya tidak terjadi di lingkungan sekitar dapat justru dibentuk oleh informasi di layar.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya berbicara tentang toleransi. Mahasiswa harus mempraktikkannya.

Lalu apa bentuk konkretnya?

_Pertama_ , membangun ruang dialog lintas agama dan budaya di kampus. Tidak harus dalam forum besar. Diskusi kecil tentang keberagaman, kegiatan kebudayaan, atau pertemuan antarorganisasi mahasiswa sudah dapat menjadi ruang untuk saling mengenal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!