Bangka BaratLokalNewsPemerintahan

23 Tahun Bangka Barat: Di Antara Jalan Pembangunan, Luka Ketertinggalan dan Harapan Yang Belum Boleh Padam

123
×

23 Tahun Bangka Barat: Di Antara Jalan Pembangunan, Luka Ketertinggalan dan Harapan Yang Belum Boleh Padam

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Tepuk tangan panjang bergema di Gedung Mahligai Betason 2 DPRD Kabupaten Bangka Barat, Senin (25/05/2026). Di ruangan itu, wajah-wajah tua para pejuang pemekaran duduk berdampingan dengan generasi muda, aparatur pemerintahan, tokoh masyarakat, hingga tamu undangan. Mereka tidak sekadar menghadiri sidang paripurna, tetapi sedang menyaksikan sejarah yang terus berjalan. Perjalanan sebuah daerah yang lahir dari perjuangan, bertahan di tengah keterbatasan, lalu tumbuh perlahan bersama harapan masyarakatnya sendiri.

Dua puluh tiga tahun lalu, Bangka Barat lahir bukan dari kemewahan. Daerah ini berdiri dari kegelisahan panjang masyarakat yang ingin keluar dari ketertinggalan, ingin lebih dekat dengan pelayanan, ingin memiliki masa depan yang tidak terus bergantung pada daerah lain. Hari ini, di usia ke-23, Bangka Barat tidak hanya sedang merayakan pertambahan umur administratif. Ia sedang menguji seberapa kuat daerah ini mampu menjaga nyala pembangunan di tengah badai ekonomi, perubahan zaman dan harapan masyarakat yang semakin besar.

Bupati Bupati Bangka Barat dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Jadi ke-23 harus dimaknai lebih dari sekadar agenda seremonial tahunan. Menurutnya, peringatan itu sebagai ruang refleksi untuk melihat kembali perjalanan Bangka Barat dari masa ke masa sekaligus menentukan arah masa depannya.

“Atas nama pemerintah daerah, saya mengucapkan selamat Hari Jadi Kabupaten Bangka Barat ke-23 kepada seluruh masyarakat. Momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi atas perjalanan panjang sejarah daerah kita,” ujarnya.

Namun di balik kalimat formal itu, sesungguhnya ada pesan yang jauh lebih dalam bahwa Bangka Barat sedang berada di persimpangan penting pembangunan.

Tema peringatan tahun ini, “Melalui Hari Jadi ke-23 Kabupaten Bangka Barat, Kita Tingkatkan Pembangunan untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Memajukan Sumber Daya Manusia demi Mewujudkan Bangka Barat yang Berkeadilan, Makmur, Tangguh dan Bersahabat,” bukan sekadar slogan yang dipasang di baliho dan spanduk perayaan. Tema itu seperti pengingat keras bahwa pembangunan tidak boleh berhenti hanya pada pidato dan seremoni.

Sebab masyarakat hari ini tidak lagi hanya menunggu janji. Mereka menunggu bukti.

Masyarakat desa ingin jalan yang benar-benar bisa dilalui saat musim hujan. Nelayan ingin laut yang memberi rasa aman untuk mencari nafkah. Anak-anak muda ingin lapangan kerja yang tidak memaksa mereka meninggalkan kampung halaman. Petani ingin harga hasil kebun yang berpihak pada keringat mereka. Dan masyarakat kecil ingin dilibatkan dalam pembangunan, bukan hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri.

Karena itulah, ketika pemerintah menyampaikan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bangka Barat meningkat dari 71,36 menjadi 72,23, angka itu sesungguhnya bukan sekadar data statistik. Di baliknya ada cerita tentang guru-guru di desa yang tetap mengajar meski fasilitas terbatas, tentang orang tua yang bekerja keras agar anaknya tetap sekolah dan tentang generasi muda yang masih percaya pendidikan dapat mengubah nasib mereka.

Namun pembangunan, seperti kehidupan, tidak pernah berjalan di jalan yang sepenuhnya terang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!