Ia mencatat bahwa pertemuan jalur perdagangan di pesisir Sumatera dan Bangka melahirkan variasi kue yang kaya rempah dan santan.
Hal serupa disampaikan dalam kajian pariwisata kuliner global oleh Erik Wolf melalui bukunya Food Tourism Around the World.
Ia menulis bahwa makanan lokal bisa menjadi magnet wisata yang kuat, karena menyimpan identitas budaya yang tidak dapat digantikan industri modern.
Dalam laporan gastronomic tourism dari UNWTO disebutkan bahwa wisata kuliner mampu meningkatkan ekonomi lokal sekaligus menjaga warisan budaya, terutama jika melibatkan komunitas UMKM dan tradisi keluarga.
Mentok memiliki semua unsur itu.
Kota 1.000 Kue: Identitas yang Menunggu Dirawat
Julukan Mentok sebagai “Kota 1.000 Kue” bukan slogan kosong. Ia lahir dari tradisi panjang dapur-dapur keluarga di kota pelabuhan ini.
Kue bangkit, kue kacang mete, kue talam, kue lapis, bingka labu, jongkong, hingga kue lainya adalah bagian dari identitas masyarakat.
Jika dikembangkan secara sistematis, bazar Ramadhan dapat menjadi festival kuliner tahunan.
Tur sejarah kuliner bisa digabungkan dengan wisata religi di Masjid Jami Mentok, wisata kota tua kolonial dan wisata pantai Tanjung Kalian.
Dalam laporan pariwisata Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, pengembangan wisata sejarah Mentok diarahkan untuk menggabungkan wisata budaya, religi dan kuliner.
Bazar Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk memulai.
Di banyak negara, wisata kuliner berkembang melalui festival makanan tradisional.
Konsep serupa bisa diterapkan di Mentok dengan melibatkan pelaku UMKM, komunitas sejarah dan generasi muda.
Di lapak sebelah Firmansyah, seorang ibu tua menjual kue bangkit dari resep neneknya.
Ia bercerita bahwa dulu kue itu dibuat untuk pelaut yang berlayar dari Mentok ke Malaka.
“Supaya mereka ingat kampung halaman,” katanya pelan.
Di sisi lain, seorang gadis remaja membantu ibunya mengemas kue sambil belajar menghitung uang. Ia bermimpi membuka toko kue online.
Di setiap kue, ada sejarah. Di setiap bazar, ada masa depan.
Ramadhan di Mentok bukan hanya tentang menunggu azan magrib.
Ia tentang menjaga tradisi, menggerakkan ekonomi dan menulis kembali identitas kota kecil di ujung barat Bangka.
Di Kampung Tanjung, dari aroma santan yang mengepul, mimpi tentang wisata kuliner Kota 1.000 Kue mulai tumbuh. (b5)












