BANGKA, Berita5.co.id – Ruas jalan penghubung Baturusa – Air Anyir kini berubah menjadi titik krisis lingkungan. Di Dusun 1 Desa Baturusa, tumpukan sampah tak hanya menimbulkan bau busuk yang menyengat, tapi juga mulai menguasai sebagian badan jalan, mengancam kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.
Kondisi ini bukan datang tiba-tiba. Sudah sejak 2023, Pemerintah Desa Baturusa mengusulkan pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di atas lahan desa seluas 3,2 hektare. Namun realisasi tak kunjung tiba. Ironisnya, jembatan penghubung menuju lahan TPA sudah rampung dibangun oleh Pemkab Bangka tahun lalu. Kini, warga bertanya: kenapa sampah masih jadi masalah, padahal infrastruktur pendukung sudah ada?
“Kalau dibiarkan terus begini, bukan hanya mencemari lingkungan, tapi juga mengancam kesehatan warga. Ini sudah masuk kategori krisis!” tegas EM, warga setempat yang resah dengan kondisi tersebut.
Lebih mengkhawatirkan lagi, lokasi pembuangan saat ini justru berada di lahan bukan milik desa, menimbulkan potensi konflik agraria di masa depan. Banyak warga luar desa juga mulai memanfaatkan lokasi itu sebagai TPA liar karena dibiarkan terbuka tanpa pengawasan.
Aktivis lingkungan sekaligus anggota BPD, Atta, mengaku telah beberapa kali melaporkan situasi ini ke Pemdes, namun tanggapannya minim. Bahkan setelah ia mengadu ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangka pada Juni 2025, belum ada langkah nyata di lapangan.
“Lahannya sudah ada. Surat edaran dari Pj Bupati juga jelas, setiap desa wajib punya TPA. Tapi entah kenapa, yang digarap malah proyek lain,” ujar Atta heran.













