Berita

Timah, Kuasa dan Laut yang Digadaikan: Dari Tembelok-Kranggan ke Rantai Gelap Tidak Terlihat

178
×

Timah, Kuasa dan Laut yang Digadaikan: Dari Tembelok-Kranggan ke Rantai Gelap Tidak Terlihat

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Tim

BANGKABARAT, Berita5.co.id — Pagi itu, Minggu (26/04/2026) di Tembelok–Keranggan dulu punya satu suara pada dayung yang membelah air.

Kini, suara itu tenggelam oleh dengung mesin ponton yang berulang, kasar dan tanpa jeda. Laut yang dulu disebut nelayan sebagai “halaman depan rumah” berubah menjadi kawasan industri tak resmi, di mana hukum terdengar seperti cerita lama.

Dalam kurun lima hari, 20 hingga 25 April 2026 sedikitnya delapan laporan media memotret satu kenyataan yang tidak lagi bisa disamarkan oleh aktivitas tambang timah ilegal beroperasi terang-terangan, dalam skala besar dan nyaris tanpa gangguan berarti.

Sebuah pembangkangan yang tidak sembunyi-sembunyi.

Sebuah sistem yang tampak bekerja terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

20 April 2026.

Laporan pertama menggambarkan laut yang “carut-marut.” Nelayan kehilangan wilayah tangkap. Ratusan ponton mulai memenuhi cakrawala.

Hari itu juga, protes muncul. Warga mendesak aparat bertindak.

Namun, seperti banyak cerita di wilayah ekstraktif, waktu berjalan lebih cepat bagi penambang daripada bagi negara.

23 April.

Laporan lanjutan menyebut aktivitas tambang semakin berani. Imbauan aparat berubah menjadi formalitas diucapkan, dicatat, lalu diabaikan.

24 April.

Larangan resmi kembali ditegaskan.

25 April.

Tambang ilegal kembali beroperasi.

Jika ini sebuah drama, maka alurnya bukan konflik melainkan rutinitas.

Di atas ponton, seorang pekerja menunduk. Tangannya penuh lumpur, wajahnya tertutup kain. Ia dibayar berdasarkan hasil, bukan waktu.

“Kalau dapat banyak, makan. Kalau tidak, ya utang,” katanya singkat.

Ia bukan pelaku utama. Ia bahkan bukan pengambil keputusan. Ia bagian paling bawah dari sistem yang jauh lebih besar.

Investigasi terhadap pola operasi menunjukkan lapisan-lapisan yang bekerja secara simultan.

Mereka menjalankan mesin, mengeruk pasir, menanggung risiko langsung.

Mengatur zona operasi, memastikan ponton tidak saling bertabrakan secara fisik maupun kepentingan.

Menyediakan dana, membeli hasil, menentukan harga. Mereka jarang terlihat, tetapi selalu hadir dalam setiap transaksi.

Timah ilegal tidak berhenti di laut. Ia masuk ke jalur distribusi yang kompleks sebagian “dibersihkan” agar tampak legal sebelum masuk ke pasar.

Di sinilah pertanyaan terbesar berada,

bagaimana sistem sebesar ini bisa berjalan tanpa gangguan berarti?

Timah sebagai komoditas strategis. Ia hidup di dalam ponsel, kendaraan, hingga perangkat elektronik modern.

Apa yang diambil dari laut Tembelok–Keranggan tidak berhenti di sana.

Ia bergerak.

Dari ponton ke pengepul.

Dari pengepul ke smelter.

Dari smelter ke rantai industri global.

Menurut pola yang dijelaskan oleh World Bank, tambang ilegal sering membentuk ekonomi bayangan, sebuah sistem paralel yang.

Tidak tercatat secara resmi

Menghindari pajak dan regulasi

Tetapi terhubung dengan pasar legal

Dalam konteks ini, setiap kilogram timah ilegal bukan hanya pelanggaran hukum. Ia bagian dari ekonomi global yang tidak ingin bertanya terlalu banyak.

Rasyid (48) berdiri di perahunya, menatap laut yang tidak lagi ia kenali.

“Dulu di sini, ikan banyak. Sekarang airnya keruh. Jaring sering rusak,” katanya.

Ia tidak berbicara tentang hukum. Ia berbicara tentang perubahan yang bisa ia lihat, sentuh dan rasakan.

Jarak melaut bertambah

Biaya operasional naik

Hasil tangkapan turun

Dalam ekonomi nelayan, satu hari tanpa hasil bukan sekadar kerugian. Itu ancaman langsung pada keberlangsungan hidup.

Beberapa nelayan mulai beralih menjadi penambang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!