Penulis: Belva Al Akhab, Satrio
TEMPILANG, Berita5.co.id — Di sebuah tikungan jalan di Desa Sangku, Kecamatan Tempilang, deretan kendaraan tampak seperti ular panjang yang tak berujung.
Mesin-mesin dimatikan. Para sopir duduk di pinggir jalan, sebagian menatap kosong ke arah pompa bensin yang tak kunjung bergerak.
Di tempat inilah, tepatnya di SPBU 24.333.161 Sangku Tempilang, antrean bahan bakar minyak (BBM) menjadi potret kecil dari kegelisahan masyarakat tentang energi, ekonomi dan kepercayaan terhadap sistem distribusi BBM di daerah.
Pada Selasa (10/3/2026), antrean kendaraan roda dua hingga truk pengangkut sawit memanjang keluar area SPBU hingga menutup sebagian badan jalan.
Situasi ini membuat lalu lintas tersendat sekaligus memicu kegelisahan warga yang takut kehabisan bahan bakar menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Namun di balik antrean yang tampak seperti fenomena biasa itu, tersimpan kisah yang jauh lebih dalam tentang gangguan sistem, psikologi massa dan kerapuhan tata kelola distribusi energi di daerah.
Investigasi di lapangan menemukan bahwa antrean panjang di SPBU Tempilang bukan hanya disebabkan oleh lonjakan permintaan.
Petugas SPBU mengungkapkan adanya gangguan teknis yang membuat sistem pengeluaran BBM sempat tidak dapat berfungsi.
“Penyebab antrean hari ini karena sinyal Telkomsel di kantor tidak berfungsi dengan baik. Sistem tidak bisa memproses pengeluaran BBM, sehingga BBM tidak bisa keluar untuk sementara waktu,” ujar seorang petugas SPBU.
Gangguan jaringan tersebut membuat sistem digital pompa BBM tidak dapat bekerja normal. Sementara itu, kendaraan terus berdatangan.
Akibatnya, antrean yang awalnya hanya puluhan kendaraan berubah menjadi ratusan kendaraan yang menunggu giliran.
Bagi masyarakat kecil yang hidup dari mobilitas kendaraan, gangguan teknis seperti ini bukan sekadar masalah sinyal. Ia menjadi ancaman langsung terhadap pendapatan harian.
Rama, seorang sopir truk pengangkut buah sawit dari Sangku, adalah salah satu dari puluhan pengemudi yang terjebak antrean.
Ia sudah menunggu lebih dari dua jam ketika ditemui di lokasi.
“Saya sudah antre dua jam lebih. Mau isi di SPBU Tempilang juga sama panjangnya,” katanya.
Bagi Rama, BBM bukan sekadar bahan bakar kendaraan. Ia adalah bahan bakar kehidupan.
Jika solar tidak didapatkan hari itu, perjalanan truk menuju pabrik sawit Sawindo harus ditunda.
“Kalau terlalu lama antre, pengangkutan sawit bisa tertunda. Kalau solar habis sebelum giliran kami, bisa saja kami menginap di sini cuma untuk antre,” ujarnya.
Di belakang truknya, beberapa sopir lain tampak menggelar tikar kecil di pinggir jalan.
Ada yang tidur di dalam kabin.
Ada yang menunggu sambil memainkan ponsel.
Waktu berjalan pelan seperti jarum jam yang malas bergerak.
Di tengah antrean itu, Angga (40), seorang pekerja tambang timah laut Tempilang, mencoba menjelaskan mengapa masyarakat tiba-tiba berbondong-bondong mengisi BBM.
Menurutnya, kepanikan masyarakat tidak muncul begitu saja.
“Masyarakat panik karena ada pernyataan dari Menteri ESDM yang bilang stok BBM Indonesia cuma cukup sekitar 21 hari,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu reaksi berantai di masyarakat.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Bangka Barat.
Di sejumlah daerah di Indonesia, antrean panjang di SPBU juga muncul setelah isu kelangkaan BBM beredar luas di masyarakat.












