Oleh: SF Ramdhani
OPINI, Berita5.co.id — Ambisi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia, khususnya rencana proyek di Pulau Gelasa, memunculkan pertanyaan mendasar, sejauh mana pengalaman pengembang proyek dapat dibandingkan dengan operator nuklir dunia yang telah mapan.
Nama ThorCon muncul sebagai pengusung utama konsep reaktor berbasis thorium molten salt reactor (MSR), teknologi yang digadang-gadang sebagai masa depan energi nuklir.
Namun ketika rekam jejak perusahaan ini ditakar berdampingan dengan operator PLTN di Eropa, kesenjangan pengalaman menjadi perbincangan yang sulit dihindari.
Di Eropa, industri nuklir dibangun melalui perjalanan panjang dengan pengalaman operasional puluhan tahun.
EDF di Prancis mengelola armada reaktor besar yang menjadi tulang punggung sistem energi nasional, sementara Rosatom dan sejumlah perusahaan teknologi nuklir lain memiliki portofolio global yang mencakup konstruksi, operasi, hingga manajemen limbah nuklir.
Bahkan proyek reaktor generasi baru di Eropa tetap dikembangkan oleh perusahaan dengan rekam jejak panjang, bukan pemain yang sepenuhnya baru.
ThorCon berada pada posisi berbeda. Perusahaan ini dikenal sebagai pengembang desain reaktor generasi baru berbasis molten salt reactor berbahan bakar thorium.
Konsep tersebut menarik perhatian karena diklaim menawarkan tingkat keselamatan lebih tinggi dan potensi biaya lebih rendah.
Namun hingga kini, belum terdapat catatan publik mengenai PLTN komersial yang telah dibangun dan dioperasikan langsung oleh ThorCon.
Hal ini memunculkan diskursus apakah proyek di Indonesia akan menjadi implementasi pertama teknologi tersebut dalam skala nyata.
Dalam industri nuklir, pengalaman operasional sering menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan publik.
Operator berpengalaman memiliki sejarah panjang menghadapi tantangan nyata, mulai dari persoalan teknis konstruksi hingga pembelajaran dari kecelakaan nuklir global yang mendorong standar keselamatan semakin ketat.
Sebaliknya, perusahaan pengembang teknologi baru sering berada pada tahap desain dan simulasi, yang secara prinsip berbeda dengan pengalaman mengelola reaktor aktif di lapangan.
Pendukung ThorCon justru melihat celah ini sebagai peluang.
Teknologi molten salt reactor dianggap sebagai lompatan inovasi yang dapat mengatasi berbagai kelemahan reaktor konvensional, termasuk risiko meltdown dan efisiensi bahan bakar.
Model produksi modular yang diusung. termasuk konsep pembangunan reaktor di galangan kapal sebelum dipasang di lokasi, disebut mampu mempercepat pembangunan dan menekan biaya proyek.
Namun skeptisisme tetap muncul. Dalam sejarah industri nuklir, proyek perdana sering menghadapi tantangan besar, mulai dari pembengkakan biaya hingga revisi desain di tengah pembangunan.












