Berita

Tambang Tembelok–Kranggan: Jeritan Perut dan Jeritan Bumi di Bulan Ramadhan

114
×

Tambang Tembelok–Kranggan: Jeritan Perut dan Jeritan Bumi di Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Seorang warga pernah berkata:

“Negara datang kalau ada kamera.”

Kalimat itu sinis. Tapi ia lahir dari pengalaman.

Razia sering bersifat sporadis.

Penindakan sering berhenti pada buruh kecil.

Pemodal besar jarang tersentuh.

Padahal tanpa menyentuh rantai distribusi, tambang ilegal tidak akan pernah mati.

Karena tambang ilegal bukan sekadar aktivitas. Ia sistem ekonomi.

Sistem yang hidup dari kemiskinan struktural.

Jalan Solusi: Revolusi Kebijakan Yang Berpihak Pada Rakyat

Menghentikan tambang ilegal tidak bisa dengan razia saja. Ia harus dimulai dari ekonomi rakyat.

Berikut solusi rinci dan realistis.

Pemerintah harus membuka Wilayah Pertambangan Rakyat di lokasi tertentu.

Mekanisme detail:

Penambang masuk koperasi resmi

Produksi dijual hanya ke BUMN

Pembelian digital transparan

Reklamasi sederhana wajib

Pengawasan komunitas

Dampak:

Penambang tidak kriminal

Negara mendapat pajak

Lingkungan lebih terkontrol

Model ini pernah berhasil pada tambang emas rakyat di beberapa daerah Indonesia.

Tambang ilegal tumbuh karena nelayan miskin.

Solusi konkret:

Budidaya rumput laut koperasi

Keramba ikan laut modern

Industri olahan ikan

Wisata bahari komunitas

Pelatihan nelayan digital

Pendanaan harus dari APBD, CSR perusahaan dan dana pusat.

Bukan seminar di hotel.

Tapi modal langsung.

Masalah utama adalah pengepul.

Solusi detail:

Sistem traceability digital

Blockchain mineral nasional

Larangan pembelian tanpa asal tambang

Sertifikasi logam legal

Jika timah ilegal tidak punya pasar, tambang ilegal mati sendiri.

Penegakan hukum harus fokus pada:

pemodal

pengepul besar

jaringan distribusi

Bukan buruh ponton.

Penambang kecil adalah korban sistem.

Program nasional:

Gerakan Ramadhan Menanam Terumbu

Penambang ikut rehabilitasi karang

Mahasiswa meneliti

Perusahaan membiayai

Masyarakat mengawasi

Reklamasi bukan proyek simbol. Ia pekerjaan jangka panjang.

Buat dashboard publik:

lokasi tambang legal

laporan reklamasi

laporan kerusakan

Masyarakat bisa mengawasi.

Karena rahasia adalah ibu dari tambang ilegal.

Beri beasiswa khusus anak penambang.

Jika generasi berikutnya punya pendidikan, mereka tidak perlu menyedot laut.

Tambang ilegal berhenti bukan karena razia, tapi karena pendidikan.

Masalah tambang ilegal juga budaya.

Solusi:

Program literasi lingkungan di sekolah

Kampanye Ramadhan peduli laut

Fatwa ulama tentang tambang merusak

Keterlibatan tokoh adat

Karena perubahan tidak cukup dengan hukum. Ia butuh kesadaran.

Suatu hari Ramadhan akan berakhir.

Takbir berkumandang.

Anak-anak memakai baju baru.

Namun di laut Tembelok–Kranggan, ponton mungkin masih berdiri.

Karena selama harga timah tinggi dan kemiskinan nyata, mesin akan tetap menyala.

Namun sejarah selalu memberi pertanyaan:

Apakah kita ingin dikenang sebagai generasi yang makan dari laut atau generasi yang memakan laut?

Jeritan perut berkata:

Biarkan kami hidup hari ini.

Jeritan bumi berkata:

Biarkan aku hidup besok.

Ramadhan seharusnya mempertemukan keduanya.

Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Karena suatu hari, ketika timah habis dan laut mati, anak-anak kita tidak akan bertanya tentang hukum.

Mereka akan bertanya:

Mengapa kalian tidak mendengar jeritan bumi saat azan Magrib berkumandang? (b5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *