Berita

Tambang Tembelok–Kranggan: Jeritan Perut dan Jeritan Bumi di Bulan Ramadhan

112
×

Tambang Tembelok–Kranggan: Jeritan Perut dan Jeritan Bumi di Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belvan Al Akhab

OPINI, Berita5.co.id — Di pesisir Mentok, azan Magrib selalu tiba tepat waktu. Yang terlambat hanya keadilan.

Lampu masjid menyala seperti doa yang tidak pernah lelah.

Lampu ponton menyala seperti dosa yang tidak pernah tidur.

Di laut Tembelok–Kranggan, mesin tetap meraung, bahkan ketika umat menahan lapar.

Karena di negeri timah, puasa tidak menghentikan tambang tetapi ia hanya menambah doa sebelum mesin dinyalakan.

Seorang penambang berkata dengan suara yang tidak bisa disangkal oleh kitab hukum mana pun:

“Kalau tidak nambang, anak makan apa?”

Kalimat itu bukan pembelaan.

Ia pengakuan ekonomi.

Pengakuan ekonomi selalu lebih keras daripada bunyi palu hakim.

Ramadhan di negeri timah bukan sekadar soal ibadah. Ia soal bertahan hidup.

Di darat, orang berburu takjil.

Di laut, orang berburu pasir.

Di darat, masjid penuh doa.

Di laut, ponton penuh lumpur.

Di darat, anak-anak belajar puasa.

Di laut, ayah mereka belajar menahan takut.

Takut dirazia.

Takut mesin rusak.

Takut laut marah.

Namun yang paling mereka takuti adalah anak pulang sekolah tanpa makan.

Bagi penambang kecil, tambang ilegal bukan kejahatan moral. Ia jalan terakhir dari ekonomi yang buntu.

Ramadhan tidak pernah menghentikan keputusasaan.

Negeri ini sebenarnya memiliki hukum yang tegas.

Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020, penambangan tanpa izin adalah tindak pidana. Negara mengatur wilayah tambang, izin usaha, reklamasi dan kewajiban lingkungan.

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, setiap kerusakan lingkungan wajib dicegah, dipulihkan dan ditanggung pelakunya.

Di atas kertas, hukum Indonesia tampak seperti benteng kokoh.

Namun di laut Tembelok–Kranggan, benteng itu sering berubah menjadi bayangan.

Aparat dari Polres Bangka Barat dan patroli Polda Kepulauan Bangka Belitung memang datang. Razia dilakukan. Mesin disita. Beberapa orang ditangkap.

Media lokal memuat berita. Foto-foto dipublikasikan.

Namun beberapa minggu kemudian, ponton kembali berdiri.

Karena hukum bisa datang sesekali.

Lapar datang setiap hari.

Di negeri timah, ekonomi sering lebih kuat daripada pasal.

Jika kita membuka jurnal-jurnal ilmiah, suara bumi sebenarnya sudah lama menjerit.

Penelitian di jurnal seperti Marine Pollution Bulletin dan Ocean dan Coastal Management menunjukkan bahwa aktivitas tambang laut meningkatkan kekeruhan air secara drastis.

Kajian dari Universitas Bangka Belitung menunjukkan bahwa sedimentasi tambang menutup terumbu karang dan lamun.

Penelitian pesisir oleh Institut Teknologi Bandung menunjukkan degradasi habitat ikan akibat sedimentasi timah.

Laporan dari WALHI dan JATAM mencatat kerusakan ekosistem Bangka Belitung dari darat hingga laut.

Lubang tambang darat menganga seperti luka lama.

Laut keruh seperti mata yang terlalu lama menangis.

Terumbu karang mati pelan-pelan.

Ikan menjauh.

Nelayan kehilangan arah.

Laut kehilangan nafas.

Dulu mereka nelayan.

Mereka mengenal angin.

Mereka membaca bintang.

Mereka tahu kapan ikan datang.

Kini mereka menjadi penambang.

Mereka mengenal mesin.

Mereka membaca harga timah.

Mereka tahu kapan razia datang.

Perubahan itu bukan pilihan bebas.

Ia paksaan ekonomi.

Penelitian sosial ekonomi mencatat bahwa banyak nelayan beralih menjadi penambang karena tangkapan ikan tidak lagi mencukupi kebutuhan keluarga.

Tambang ilegal menjadi ekonomi bayangan terbesar di Bangka Barat.

Rantai distribusi timah ilegal melibatkan:

pengepul

pemodal

transportir

jaringan ekspor

Sementara perusahaan resmi seperti PT Timah Tbk bekerja dalam sistem izin, pajak, dan reklamasi.

Dua dunia hidup berdampingan.

Yang legal menulis laporan.

Yang ilegal menulis hutang.

Yang legal punya kantor.

Yang ilegal punya warung kopi.

Rakyat kecil tetap lapar.

Ramadhan adalah bulan empati.

Namun di Tembelok–Kranggan, empati sering berhenti di darat.

Di darat orang berbagi takjil.

Di laut orang berbagi setoran.

Penambang sahur dengan mie instan.

Mereka minum kopi hitam di atas ponton.

Mereka melihat laut yang dulu memberi ikan, kini memberi pasir.

Doa mereka sederhana:

agar anak sehat

agar hutang lunas

agar ponton tidak dirazia

Jarang ada doa untuk laut.

Padahal laut yang rusak membuat nelayan menjadi penambang.

Penambang menjadi buruh ponton.

Buruh ponton menjadi bagian sistem ilegal.

Lingkaran itu berputar tanpa henti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!