TEMPILANG, Berita5.co.id — Masjid Al-Hidayah, Desa Tempilang, Selasa malam (20/1/2026), tidak sekadar menjadi ruang ibadah.
Ia berubah menjadi ruang perjumpaan batin lintas generasi.
Ratusan jamaah, dari anak-anak santri hingga para tokoh masyarakat, duduk bersila rapat di atas sajadah hijau, menyimak dengan khusyuk peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Hidayah Tempilang.
Di saf terdepan, para tokoh agama, pengurus masjid, dan pemuka masyarakat berdiri berdampingan, mengenakan busana sederhana.
Di belakang mereka, puluhan santri duduk tertib, sebagian masih belia, memegang kotak konsumsi dan segelas air, menatap mimbar dengan mata yang menyimpan rasa ingin tahu.
Foto-foto kegiatan itu menangkap satu pesan yang kuat bahwa agama tidak hanya diwariskan lewat kata, tetapi lewat keteladanan dan kebersamaan.
Ketua DKM Al-Hidayah, Ramadhan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh jamaah, undangan dan panitia yang telah menyukseskan kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum spiritual untuk memperbaiki kualitas iman dan takwa umat.
“Melalui peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H ini, kita berharap keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT semakin meningkat, baik sebagai jamaah maupun sebagai masyarakat,” ujar Ramadhan.
Nada sambutan itu terasa sederhana, namun menyentuh. Di wajah para jamaah, terutama mereka yang telah lanjut usia, tampak ekspresi tenang seolah mengamini bahwa perjalanan hidup, seperti Isra’ Mi’raj, juga penuh ujian yang membutuhkan kesabaran dan keyakinan.
Camat Tempilang, Rusian, S.K.M., M.H., menegaskan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj tidak boleh berhenti pada seremoni keagamaan semata.
Menurutnya, peristiwa besar dalam sejarah Islam ini harus menjadi pengingat akan ajaran Rasulullah SAW yang relevan hingga hari ini, terutama di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan sosial.
“Isra’ Mi’raj adalah pengingat agar kita tetap menanamkan nilai ibadah, kepedulian sosial, dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari,” kata Rusian.
Di tengah jamaah, para santri tampak menyimak dengan serius.
Kegiatan suasana memperlihatkan mereka duduk sejajar tanpa sekat status sosial.












