Oleh: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id – Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Ali (56) melangkahkan kaki telanjangnya ke perairan dangkal Pantai Karang Apit, bersebelahan dengan Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Senin (6/7/2026).
Di pundaknya tersandar sebatang kayu hampir tiga meter dengan jaring berbentuk segitiga di ujungnya. Masyarakat Tempilang menyebut alat tangkap tradisional itu sebagai sungkur, alat sederhana yang selama puluhan tahun menjadi andalan nelayan pesisir untuk menangkap rebon, udang kecil yang diolah menjadi terasi.
Bagi Ali, sungkur bukan sekadar alat mencari nafkah. Alat itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih anak-anak.
Ia mengusap gagang kayu yang mulai kusam dimakan usia.
“Sudah tua juga kau,” gumamnya pelan.
Entah sedang berbicara kepada sungkur itu, atau kepada dirinya sendiri.
Ali telah menjadi nelayan sungkur selama hampir empat puluh tahun. Pengetahuan tentang laut ia warisi dari ayah dan kakeknya yang juga nelayan.
Ia masih mengingat pesan ayahnya ketika pertama kali diajak ke laut pada usia sebelas tahun.
“Tugasmu lihat saja dulu. Laut itu harus dikenali sebelum dilawan.” tuturnya.
Sejak saat itu, laut menjadi ruang belajar yang tidak pernah memiliki ruang kelas.
Tidak ada buku yang mengajarkan kapan musim rebon datang.
Tidak ada sekolah yang mengajarkan cara membaca warna air, mengenali tekstur lumpur, atau memahami arah angin.
Semua dipelajari melalui pengalaman.
Melalui ribuan langkah yang ditempuh di atas lumpur pesisir.
Melalui musim-musim yang datang silih berganti.
“Laut bukan untuk ditaklukkan. Ia harus dipahami,” kata Ali.
Pengetahuan seperti itu menjadi warisan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di Tempilang.
Sungkur merupakan alat tangkap sederhana yang dioperasikan dengan tenaga manusia.
Nelayan berjalan perlahan di perairan dangkal sambil mendorong jaring berbentuk segitiga mengikuti arus laut.
Tidak menggunakan mesin.
Tidak menghasilkan kebisingan.
Tidak mengaduk dasar laut secara berlebihan.
Ukuran mata jaring dibuat khusus agar hanya menangkap rebon dan meminimalkan tangkapan biota lain.
Karena itu, bagi masyarakat Tempilang, sungkur bukan hanya alat tangkap, tetapi juga bagian dari pengetahuan lokal yang mengajarkan hubungan manusia dengan alam.
“Kalau orang serakah, sungkur tidak akan kasih apa-apa,” ujar Ali.
Nelayan tua di Tempilang memiliki sejumlah pantangan.
Mereka tidak menangkap rebon sebelum musimnya tiba.
Mereka menghindari penangkapan berlebihan.
Mereka percaya laut membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya.
“Laut itu seperti manusia. Kalau dipaksa terus, dia juga capek.” kata Ali.
Prinsip-prinsip tersebut telah hidup jauh sebelum masyarakat mengenal istilah pembangunan berkelanjutan.
Namun, pagi itu hasil tangkapan Ali jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu.
Berulang kali ia mengangkat sungkurnya.
Kosong.
Ia berjalan lebih jauh.
Masih kosong.
“Dulu sebelum matahari tinggi, keranjang sudah penuh,” katanya.
Kini hasil tangkapannya hanya sekitar seperempat dibandingkan sepuluh tahun lalu.
Perubahan itu datang perlahan.
Musim rebon semakin sulit diprediksi.
Arah angin berubah.
Gelombang tidak lagi mengikuti pola yang selama puluhan tahun dikenalnya.
Pasang surut pun sering bergeser.
Kadang rebon muncul lebih cepat.
Kadang sama sekali tidak datang.
“Laut sekarang seperti punya kemauan sendiri,” ujarnya.
Bagi nelayan tradisional, perubahan tersebut bukan sekadar perubahan cuaca.
Seluruh pengetahuan yang diwariskan turun-temurun mulai kehilangan kepastian.
Ali tidak mengenal istilah perubahan iklim ataupun degradasi ekosistem pesisir.
Namun ia merasakan perubahan itu setiap hari.
Ia mengetahui kapan air laut terasa lebih hangat.
Ia merasakan perubahan tekstur lumpur.
Ia mengetahui kapan rebon mulai menghilang.
Pengetahuan itu lahir bukan dari laboratorium, melainkan dari puluhan tahun hidup bersama laut.
Perubahan hasil tangkapan turut mengubah kehidupan masyarakat pesisir.
Di rumah, istri Ali tidak lagi menanyakan banyaknya rebon yang dibawa pulang.
Yang lebih penting apakah hasil hari itu cukup membeli kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, semakin sedikit anak muda yang memilih menjadi nelayan sungkur.
Sebagian bekerja di kota.
Sebagian menjadi buruh.
Sebagian memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Ali memahami pilihan mereka.
Namun, ada kegelisahan yang terus menghantuinya.
“Kalau nanti aku sudah tidak sanggup lagi berjalan di laut, siapa yang akan mengangkat sungkur ini?” ungkapnya.
Pertanyaan itu bukan sekadar tentang keberlanjutan sebuah alat tangkap.
Lebih dari itu, pertanyaan tersebut menyangkut masa depan pengetahuan lokal masyarakat pesisir Tempilang.
Sebab ketika sungkur berhenti digunakan, yang hilang bukan hanya cara menangkap rebon.
Yang ikut menghilang cara masyarakat membaca musim, memahami laut, serta menjaga hubungan yang selama puluhan tahun terjalin antara manusia dan alam.
Bagi Ali, kehilangan sungkur berarti kehilangan bahasa yang selama ini menghubungkan manusia dengan laut.
Ketika bahasa itu hilang, mungkin yang lebih dahulu lenyap bukanlah rebon, melainkan ingatan sebuah kampung tentang asal-usulnya sendiri.(B5)












