Babel hari iniBangka BaratBangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNewsPemerintahan

Siapa Sesungguhnya Pemilik Laut Desa Belo Laut, UU Negara atau UU Mafia Timah

79
×

Siapa Sesungguhnya Pemilik Laut Desa Belo Laut, UU Negara atau UU Mafia Timah

Sebarkan artikel ini

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di negeri yang katanya taat hukum ini, batas negara tampaknya bukan ditentukan garis koordinat, melainkan seberapa kuat suara knalpot mesin TI apung dan seberapa tebal solar yang dibakar di malam hari. Kamis (6/11/2025) di perairan Desa Belo Laut, Dusun 3, sebuah drama faktual terjadi adalah patok batas laut yang menjaga kedaulatan tambatan perahu nelayan dicabut begitu saja oleh para penambang ilegal.

Nelayan bukan marah, mereka terhina. Bahkan ibu-ibu kampung pun berdiri di pinggir pesisir menyaksikan pembantaian batas ruang hidup suami mereka.

Sebuah foto memperlihatkan Babinkamtibmas Desa Belo Laut, Aiptu Amra, berdiri di pinggir kampung, menunjuk ke arah hamparan pesisir yang berubah seperti planet tandus. Warna landasan pasir dan lumpur yang terkoagulasi itu bukan fenomena alam. Itu bekas operasi mesin timah.

Di foto lainnya, tampak TI apung berjajar seperti rumah-rumah mini yang sedang parkir di zona bakau. Atap terpal biru, mesin hisap, dan tongkang kayu semuanya tampak normal normalisasi kejahatan yang telah diterima sebagai “pemandangan biasa.”

Gambar terakhir bahkan menampilkan manusia berjalan di atas sedimen bekas kupasan dasar laut, seakan laut sudah bukan laut. Ia telah menjadi sawah pencucian timah.

Gambar-gambar itu bukan ilustrasi. Itu dokumentasi bahwa laut kita sudah tidak lagi punya bentuk laut. Laut telah menjadi strip-mining terbuka.

Penambang yang mencabut patok itu sebagian besar bukan orang Belo Laut. Mereka datang membawa mesin, bukan membawa laut ini dalam kenangan. Mereka menyebut diri “mewakili warga,” menggunakan skema TI user (sebu) untuk legalitas semu. Tapi nyawa bakau perepat menjadi tumbalnya. Pohon-pohon besar tampak mati adalah bangkai hijau yang dibiarkan berdiri sebagai monumen penghinaan.

“Sudah tiga hari ini mereka kerja. Sekarang malah makin dekat ke Jetty nelayan,” kata warga kepada wartawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!