Babel hari iniBangka BaratBangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNews

Sarbudiono, S.Pd: Duta Genre Dijadikan Ujung Tombak Masa Depan Bangka Barat

53
×

Sarbudiono, S.Pd: Duta Genre Dijadikan Ujung Tombak Masa Depan Bangka Barat

Sebarkan artikel ini

Berbeda dari banyak program serupa, DP3AP2KB Bangka Barat mencoba mendorong keterlibatan remaja tidak berhenti di panggung.

Sarbudiono menegaskan bahwa anak-anak Genre dilibatkan langsung dalam proses pembangunan daerah mulai dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), kegiatan sosialisasi hingga ruang-ruang edukasi dan komunikasi kebijakan.

“Kita melibatkan anak Genre untuk memberikan masukan dalam pembangunan daerah,” katanya.

Langkah ini menjadi penting dalam mengubah posisi remaja dari objek menjadi subjek. Dari sekadar penerima program menjadi bagian dari perancangnya.

Namun tantangannya tidak kecil. Partisipasi sering kali berhadapan dengan struktur yang belum sepenuhnya membuka ruang. Aspirasi remaja kadang terjebak di antara formalitas dan realitas implementasi.

Meski begitu, Sarbudiono tetap melihatnya sebagai langkah awal, sebuah proses yang harus terus dijaga.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program ini tidak terletak pada seleksi atau seremoni, melainkan pada apa yang terjadi setelahnya.

Sarbudiono menaruh harapan besar pada para Duta Genre agar tidak berhenti pada status.

“Mereka diharapkan bisa mengaktualisasikan program yang mereka sampaikan dalam kehidupan nyata di masyarakat,” tegasnya.

Harapan itu sederhana, tetapi sekaligus berat. Karena di luar panggung, tidak ada lagi lampu sorot. Yang ada hanyalah kehidupan sehari-hari, tempat di mana ide-ide harus diuji dan komitmen harus dibuktikan.

Di Bangka Barat, pembangunan remaja kini tidak lagi sekadar wacana. Ia sedang dibentuk pelan, kompleks dan penuh harapan.

Sarbudiono, dengan pendekatannya yang menekankan kolaborasi dan pemberdayaan, mencoba membangun sesuatu yang lebih dari sekadar program yaitu sebuah ekosistem.

Di dalamnya, remaja tidak hanya dipersiapkan untuk masa depan. Mereka juga diajak untuk mulai mengambil bagian di dalamnya.

Di antara semua itu, tersisa satu keyakinan yang terus diulang bahwa masa depan tidak lahir dari kebetulan, tetapi dari generasi yang disiapkan, didorong dan dipercaya.

Sementara itu, di luar gedung dan panggung, remaja-remaja itu kembali ke kehidupan mereka masing-masing membawa satu hal yang tidak kasatmata, tetapi terasa nyata dalam harapan yang kini perlahan berubah menjadi tanggung jawab. (*/B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!