Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
MENTOK, Berita5.co.id — Di tengah riuhnya narasi tentang krisis generasi dan bayang-bayang masa depan yang kerap terasa jauh, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., justru memilih menatap ke arah yang berbeda yaitu pembagunan remaja.
Baginya, mereka bukan sekadar peserta dalam panggung Duta Generasi Berencana (Genre), melainkan titik awal dari sebuah proyek besar bernama masa depan.
“Remaja adalah generasi penerus masa depan. Mereka adalah ujung tombak, motor penggerak pembangunan bangsa,” ujar Sarbudiono, menegaskan posisi strategis generasi muda dalam arah pembangunan daerah, Rabu (22/04/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar retorika pembuka. Ia menjadi fondasi dari pendekatan yang kini dijalankan DP3AP2KB Bangka Barat, bahwa pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur dan kebijakan, tetapi harus dimulai dari manusia, dari keluarga dan dari remaja yang sedang bertumbuh di tengah berbagai keterbatasan.
Dalam kerangka itu, pembangunan keluarga ditempatkan sebagai pondasi utama. Sebab di sanalah, menurut Sarbudiono, kualitas generasi dibentuk sebelum mereka tampil di panggung, sebelum mereka berbicara tentang perubahan.
Sarbudiono tidak menutup mata terhadap realitas yang masih membayangi Bangka Barat. Ia menyebut stunting sebagai persoalan bersama bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi kenyataan yang menyentuh langsung masa depan generasi.
“Penanganan stunting melibatkan semua stakeholder. Kita terus berupaya menekan angka stunting dengan seluruh potensi yang ada,” katanya.
Di balik kalimat itu, tersusun sebuah kerja kolaboratif yang tidak sederhana. Pemerintah daerah menggandeng berbagai pihak OPD, BUMN, sektor swasta, organisasi masyarakat, hingga perbankan dalam satu pola yang disebut Gerakan Orang Tua Asuh Penanganan Stunting (Genting).
Dalam skema ini, stunting tidak lagi dilihat sebagai persoalan teknis semata, tetapi sebagai tanggung jawab sosial yang harus dipikul bersama. Ada semacam kesadaran kolektif yang sedang dibangun bahwa masa depan tidak bisa diselamatkan secara parsial.
Namun di tengah upaya itu, Sarbudiono tetap kembali pada satu titik yang sama dalam titik pembangunan remaja. Karena bagi dirinya, pencegahan selalu lebih kuat daripada penanganan.
Di luar ruang rapat dan dokumen perencanaan, ada realitas lain yang tidak bisa diabaikan. Banyak remaja Bangka Barat tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi, akses pendidikan, hingga ruang berkembang yang tidak selalu setara.
Sarbudiono memahami itu, tetapi ia menolak menjadikannya alasan untuk berhenti.
“Keterbatasan tidak boleh menjadi penghambat. Justru harus menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kemampuan dan kualitas diri,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian remaja, ia sebagai tantangan yang nyata. Sebab di balik semangat yang digaungkan, ada perjuangan harian yang tidak selalu terlihat tentang bertahan, tentang bermimpi di ruang yang sempit, tentang mencoba tetap percaya pada masa depan.
Di sinilah peran Duta Genre menjadi penting. Mereka bukan hanya wajah program, tetapi juga simbol bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari cerita.












