Di bawah kepemimpinan Sarbudiono, DP3AP2KB Bangka Barat tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun gerakan sosial.
Bersama BKKBN dan berbagai pihak, ia mendorong keterlibatan lintas sektor dalam memerangi stunting.
“Kami ingin semua pihak terlibat. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Langkah ini menunjukkan pendekatan baru bahwa perang melawan stunting harus dilakukan secara kolektif, terstruktur dan berkelanjutan.
Sarbudiono tidak ragu menyampaikan pesan tegas kepada masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa orang tua memiliki peran paling menentukan dalam masa depan anak.
“Hidup sehat tidak harus mahal. Yang penting memenuhi standar gizi, kebersihan dan kesehatan,” katanya.
Pesan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap pola hidup yang masih mengabaikan kebutuhan dasar anak.
Bagi Sarbudiono, target zero stunting bukan sekadar angka.
Ia adalah simbol dari masa depan yang ingin diselamatkan.
“Kalau kita tidak serius, kita berisiko kehilangan satu generasi. Tapi kalau kita bergerak bersama, kita bisa menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas,” tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan hari ini, tetapi ancaman jangka panjang bagi pembangunan daerah.
Di akhir wawancara, Sarbudiono menyampaikan ajakan yang sederhana namun penuh makna.
“Ayo bersama menciptakan keluarga yang sehat, cerdas dan berkualitas,” ujarnya.
Namun di balik kalimat itu, tersimpan pesan yang lebih dalam bahwa perang melawan stunting tidak bisa setengah hati.
Tidak bisa ditunda.
Tidak bisa dianggap sepele.
Ia harus dimulai dari rumah.
Dari kesadaran orang tua.
Dari keputusan kecil setiap hari.
Di Bangka Barat, di bawah komitmen Sarbudiono, perang itu kini tidak lagi hanya bertindak dalam narasi.
Ia mulai bersuara dengan keras dan tak bisa diabaikan.












