Babel hari iniBangka BaratBangka BelitungBeritaEdukasiLingkunganLokalNasionalNewsPemerintahan

Ribuan Warga Padati Pantai Pasir Kuning, Tradisi Perang Ketupat Tempilang 2026 Berlangsung Meriah

102
×

Ribuan Warga Padati Pantai Pasir Kuning, Tradisi Perang Ketupat Tempilang 2026 Berlangsung Meriah

Sebarkan artikel ini

TEMPILANG, Berita5.co.id — Gemuruh sorak sorai memecah ketenangan Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, pada Minggu (8/2/2026). Ribuan pasang mata menjadi saksi saat ratusan ketupat beterbangan di udara dalam ritual tahunan Perang Ketupat Tempilang. Tradisi ikonik ini kembali digelar bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai simbol pembersihan diri dan penguatan identitas masyarakat Bangka Barat menjelang bulan suci Ramadan.

​Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Bangka Barat, Markus, bersama Wakil Bupati H. Yus Derhaman, Wakapolda Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda, Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, serta jajaran Forkopimda dan tokoh adat setempat.

​Bupati Bangka Barat, Markus, dalam sambutannya menegaskan bahwa Perang Ketupat adalah fondasi kultural yang tak ternilai. Ia mengapresiasi masyarakat Tempilang yang konsisten menjaga warisan ini sejak abad ke-19.

​”Tradisi ini mengandung makna mendalam; simbol rasa syukur, ritual tolak bala, sekaligus ruang silaturahmi tanpa sekat. Statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) membuktikan bahwa nilai lokal kita memiliki skala universal,” ujar Markus.

​Senada dengan Bupati, Wakil Bupati H. Yus Derhaman melihat potensi besar tradisi ini sebagai penggerak ekonomi dan wisata berbasis budaya. Ia menjanjikan dukungan administratif untuk pengembangan kawasan budaya Tempilang ke depannya.

“Pemerintah daerah memberikan ‘karpet merah’ bagi akademisi dan masyarakat adat untuk berkolaborasi. Ini bukan soal hiburan semata, tapi soal jati diri bangsa,” tegas Yus Derhaman.

​Meski terlihat seperti aksi saling lempar, Perang Ketupat sarat akan nilai pendidikan karakter. Keman, Dukun Laut Tempilang sekaligus penjaga adat, membedah akronim “KETUPAT” yang menjadi pedoman hidup warga.

​”Perang Ketupat mengingatkan kita pada sejarah leluhur. Kami sudah berkoordinasi dengan otoritas agama untuk memastikan tradisi ini berjalan selaras dengan nilai-nilai religius,” jelas Keman.

​Sebelum puncak “perang” dimulai, suasana khidmat terasa saat prosesi adat dilakukan secara berurutan, mulai dari ​Penimbongan & Ngancak Penimbong, ​Taber Kampung (Pembersihan desa secara spiritual), ​Tarian Serimbang & Kedidi Serta ​Silat Seramo Adat dari Perguruan Mawar Putih.

​Kegiatan ditutup dengan doa arwah dan doa selamat, sebelum akhirnya puluhan pria berpakaian hitam terjun ke arena perang. Uniknya, meski saling lempar, tak ada amarah yang tersisa; hanya ada gelak tawa dan keakraban yang semakin erat.

​Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berharap Perang Ketupat terus menjadi magnet wisatawan nasional maupun mancanegara. Dengan dukungan UMKM dan sektor jasa yang menggeliat selama acara, tradisi ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *