“Secara langsung program ini memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, habitat baru yang terbentuk juga menjadi fishing ground baru bagi nelayan,” ujar Indra.
Berdasarkan hasil monitoring, pengukuran biomassa ikan konsumsi di titik penenggelaman artificial reef menunjukkan hasil yang signifikan.
“Biomassa ikan yang lazim dikonsumsi masyarakat tercatat lebih dari 600 kilogram per hektare di lokasi baru artificial reef,” tambahnya.
Indra menegaskan, program reklamasi laut yang dilakukan PT TIMAH Tbk merupakan bentuk tanggung jawab lingkungan perusahaan atas aktivitas penambangan laut. Meski demikian, ia menilai program ini perlu terus dievaluasi dan disempurnakan agar manfaatnya semakin berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.
“Program ini seharusnya menjadi pemantik dan role model bagi perusahaan-perusahaan lain, khususnya industri pertambangan timah, agar turut bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan laut,” katanya.
Melalui reklamasi laut, PT TIMAH Tbk menegaskan tanggung jawab lingkungan sebagai bagian dari prinsip keberlanjutan yang dilakukan perusahaan. Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem laut dan masyarakat pesisir. (*/B5)
Sumber : www.timah.com












