Gagasan serupa juga disampaikan dalam laporan penelitian UNESCO tentang Sport for Development and Peace, yang menyebutkan bahwa olahraga dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat identitas kolektif masyarakat.
Dalam konteks Bangka Barat, narasi tersebut seakan menemukan panggungnya. Sepak bola tidak hanya menjadi permainan, tetapi juga proyek sosial yang melibatkan pemerintah, organisasi olahraga dan masyarakat.
Dukungan Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah Bangka Barat menyatakan komitmennya untuk mendukung langkah-langkah pembinaan yang dilakukan PSSI.
Yus Derahman menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan terhadap program pembinaan atlet muda.
“Pemerintah daerah tentu sangat mendukung upaya PSSI dalam membina atlet-atlet muda, meningkatkan kualitas kompetisi, serta memperkuat pembinaan sepak bola dari tingkat usia dini hingga tingkat prestasi,” katanya.
Dukungan ini menjadi semakin penting menjelang pelaksanaan Porprov Bangka Belitung 2026 yang akan digelar pada akhir tahun ini.
Bagi Bangka Barat, ajang tersebut bukan sekadar kompetisi olahraga. Ia adalah panggung pembuktian bahwa sistem pembinaan yang dibangun benar-benar mampu melahirkan prestasi.
Di sisi lain, Ketua PSSI Bangka Barat Allani menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi olahraga, pemerintah daerah dan masyarakat.
“Terima kasih atas apresiasi semua pihak yang telah ikut membantu perkembangan sepak bola. Kami dari PSSI Bangka Barat berharap dukungan yang terus berlanjut, khususnya menjelang pelaksanaan Porprov akhir tahun ini,” ujar Allani.
Namun di luar ruang rapat yang penuh wacana dan strategi, realitas sepak bola Bangka Barat tetap berada di lapangan-lapangan desa.
Di sanalah anak-anak muda berlatih setiap sore. Mereka bermain bola di tanah berdebu, di lapangan sederhana yang kadang jauh dari standar stadion profesional. Dari tempat-tempat sederhana itulah mimpi sepak bola Bangka Barat tumbuh.
Bagi mereka, rapat kerja di hotel mungkin terdengar jauh. Tetapi jika program-program yang dibahas benar-benar berjalan, maka keputusan yang lahir dari ruang rapat itu akan sampai juga ke lapangan desa.
Rapat kerja PSSI Bangka Barat 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi catatan administratif organisasi.
Ia adalah panggung narasi besar dalam narasi tentang kebangkitan sepak bola daerah, tentang harapan masyarakat, dan tentang bagaimana sebuah organisasi olahraga membangun citra sekaligus visi masa depan.
Jika semua rencana yang dibahas di Hotel Yasmin Star Mentok benar-benar dijalankan, maka rapat kerja itu bisa menjadi titik awal dari perjalanan panjang menuju kebangkitan sepak bola Bangka Barat.
Namun jika ia hanya berhenti pada narasi dan pencitraan, maka rapat itu akan tinggal menjadi cerita. Sebuah cerita tentang mimpi besar yang pernah dibicarakan di sebuah ruang rapat di Mentok.
Sejarah sepak bola Bangka Barat akan menunggu jawabannya di lapangan hijau. (b5)












