Amartya Sen dalam gagasan Development as Freedom menulis bahwa kemiskinan bukan hanya kekurangan uang, tetapi hilangnya kemampuan hidup layak.
Di Tempilang, sembako bersubsidi menjadi kebebasan kecil bagi keluarga miskin untuk berbuka dengan tenang.
James Midgley dalam Social Welfare in Global Context menyebut bahwa kebijakan sosial adalah wajah kemanusiaan negara. Wajah itu tampak dalam langkah H. Yus Derahman ketika kebijakan turun menjadi pelukan.
Laporan FAO tentang inflasi pangan menegaskan bahwa lonjakan harga pangan selalu paling melukai keluarga miskin.
Di Bangka Barat, operasi pasar menjadi perisai kecil dari badai global.
Dan laporan inflasi pangan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa intervensi harga dapat menjaga stabilitas sosial.
Artinya, tindakan kecil pemerintah daerah bisa mencegah kegelisahan besar masyarakat.
Bagi publik, pemimpin bukan hanya orang yang menandatangani anggaran. Pemimpin adalah yang datang ketika rakyat kesulitan.
Di Tempilang, H. Yus Derahman membangun citra itu bukan lewat baliho, tetapi lewat beras.
Bukan lewat pidato panjang, tetapi lewat sentuhan tangan.
Bukan lewat janji politik, tetapi lewat tindakan nyata.
“Mari kita kawal bersama agar bantuan ini tepat sasaran,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar administrasi. Ia adalah pesan moral.
Ramadhan selalu mengajarkan empati. Di bulan lapar dan sabar, pemimpin diuji oleh nurani.
Operasi Pasar Sembako Bersubsidi menjadi bukti bahwa kepemimpinan bisa menjadi ibadah sosial.
Di mata warga Tempilang, H. Yus Derahman bukan sekadar Wakil Bupati. Ia adalah orang yang datang membawa beras ketika dapur hampir padam.
Di Bangka Barat, nama H. Yus Derahman kini disebut dalam percakapan warung kopi sebagai pemimpin yang hadir.
Citra itu bukan panggung politik. Ia lahir dari pengalaman rakyat.
Seorang nelayan berkata:
“Pemimpin itu bukan yang bicara di radio, tapi yang datang ke desa.”
Di Tempilang, kalimat itu menemukan bentuknya.
Ketika acara selesai, warga pulang dengan sembako di pundak. Anak-anak berlari di halaman. Matahari siang memantul di seng gedung serbaguna.
Di hati masyarakat Tempilang, ada rasa ringan.
Mungkin sejarah besar ditulis oleh perang dan politik. Tetapi sejarah kecil ditulis oleh orang-orang yang membawa beras ke rumah rakyat.
Di Bangka Barat, Ramadhan 2026 mencatat satu halaman kecil tentang kepemimpinan tentang seorang Wakil Bupati bernama H. Yus Derahman, yang memilih berjalan bersama rakyatnya. (b5)












