Penulis: Medi Hestri dan Satrio
TEMPILANG, Berita5.co.id — Pagi itu, di Gedung Serbaguna Kecamatan Tempilang, karung-karung beras 10 kilogram tersusun seperti benteng doa.
Plastik-plastik merah menunggu disentuh tangan-tangan yang selama ini berhemat pada nasi dan garam.
Dan di tengah ruangan itu, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman berdiri, bukan sebagai pejabat di podium, tetapi sebagai manusia yang memanggul kegelisahan rakyatnya di bulan Ramadhan.
Operasi Pasar Sembako Bersubsidi Tahun 2026 itu digelar oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Bangka Barat bekerja sama dengan Perum Bulog, di tengah tekanan harga pangan yang terus menekan keluarga kecil di desa-desa.
Di hadapan para ibu yang menggenggam kupon, para nelayan yang baru pulang tanpa tangkapan, dan buruh harian yang menghitung rupiah sebelum membeli gula, H. Yus Derahman berkata pelan:
“Bantuan ini bukan sekadar sembako. Ini tanda bahwa pemerintah tidak membiarkan rakyat berjalan sendiri dalam kesulitan.” ungkap H.Yusderahman, Selasa (24/02/2026).
Kata-kata itu sederhana. Tetapi di ruang serbaguna yang catnya mulai mengelupas, ia terdengar seperti janji sosial yang hidup.
Fakta Utama yang Menghangatkan Hati
Kegiatan: Operasi Pasar Sembako Bersubsidi Tahun 2026
Lokasi: Gedung Serbaguna Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat
Pelaksana: DKUP Bangka Barat
Pendukung: Perum Bulog Cabang Bangka
Tujuan: Menekan dampak inflasi pangan dan menjaga daya beli masyarakat Ramadhan
Menurut data Badan Pusat Statistik, inflasi pangan menjadi penyumbang terbesar kenaikan biaya hidup rumah tangga miskin. Fakta itu bukan angka mati bagi H. Yus Derahman. Ia menjelma menjadi langkah nyata.
Aktivitas di lapangan memperlihatkan karung beras bertumpuk rapi. Ia bukan sekadar logistik. Ia adalah metafora kehadiran negara.
Sisi lain menunjukkan Wakil Bupati berbicara di meja panjang bersama aparat dan tokoh masyarakat.
Ia tampak tenang, tetapi matanya menyapu warga seperti memastikan tak ada yang terlewat.
Dalam satu sudut menangkap momen tangan ke tanga yaitu sembako berpindah dari pejabat ke warga.
Dalam momen itu, kekuasaan berubah menjadi empati. Di sisi lain memperlihatkan ratusan warga berdiri bersama.
Di antara mereka, Wakil Bupati tampak menyatu tidak di atas panggung, tetapi di tengah rakyat.
Hasan, buruh harian yang menerima sembako, memeluk karung beras seperti memeluk masa depan.
“Ramadhan ini kami bisa makan tenang,” katanya.
Seorang ibu bernama Siti menahan air mata. “Beras ini mungkin kecil bagi pemerintah, tapi besar bagi anak-anak kami,” ujarnya.
H. Yus Derahman menepuk bahu mereka. Tidak ada kamera yang bisa menangkap kehangatan itu sepenuhnya.
Dalam dunia ilmu sosial, perlindungan sosial adalah jembatan antara negara dan rakyat.












