Bangka BaratCSREkonomiLingkunganLokalNewsOrganisasiPemerintahanPerkebunanPertanian

PSR di Desa Tebing dan Pembangunan Masa Depan Petani Sawit KabupatenBangka Barat

×

PSR di Desa Tebing dan Pembangunan Masa Depan Petani Sawit KabupatenBangka Barat

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Guntur

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Cangkul menembus tanah di Desa Tebing, Kecamatan Kelapa, Selasa (8/9/2026). Di atas lahan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sebuah tanaman baru ditanam. Bukan sekadar bibit yang dipindahkan dari persemaian ke tanah, tetapi sebuah pembangunan panjang. Apakah kebun rakyat mampu kembali produktif dan mengangkat kesejahteraan petani setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan tanaman tua dan produktivitas yang menurun.

Suasana tanam perdana Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) itu terlihat sederhana. Beberapa orang berdiri mengelilingi titik tanam. Seorang petani bekerja bersama sejumlah pejabat dan unsur terkait, sementara seorang perempuan dengan topi lebar turut berada di dekat lubang tanam.

Di tengah tanah yang tampak baru digarap, bibit sawit menjadi pusat perhatian.

Momen itu menjadi penanda dimulainya program peremajaan kebun sawit rakyat di Desa Tebing yang digagas melalui Koperasi Produsen Sinar Kelapa Makmur, dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan pemerintah daerah.

Bagi petani, persoalannya bukan hanya bagaimana menanam pohon baru.

Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana bertahan selama masa tanaman belum menghasilkan, bagaimana memastikan bantuan tepat sasaran, bagaimana menjaga kualitas bibit dan bagaimana memastikan kebun yang telah diremajakan benar-benar menghasilkan kehidupan yang lebih baik beberapa tahun mendatang.

Itulah pertaruhan sesungguhnya dari program PSR.

Dalam sambutannya, Bupati Bangka Barat Markus menyebut perkebunan kelapa sawit memiliki posisi strategis dalam perekonomian masyarakat, terutama di Kecamatan Kelapa.

Sawit telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga. Namun, tanaman yang dahulu produktif tidak selamanya mampu memberikan hasil yang sama.

Sebagian kebun rakyat menghadapi persoalan tanaman yang telah berusia tua. Di sisi lain, penggunaan bibit yang tidak unggul turut menjadi salah satu persoalan yang berdampak terhadap produktivitas.

“Banyak kebun rakyat yang usianya sudah tua, menggunakan bibit asalan, serta produktivitasnya yang terus menurun,” kata Markus dalam sambutannya.

Kalimat tersebut menggambarkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar urusan perkebunan.

Ketika produktivitas turun, pendapatan keluarga petani ikut tertekan. Ketika biaya perawatan terus berjalan sementara hasil panen tidak lagi optimal, kebun yang seharusnya menjadi aset keluarga dapat berubah menjadi sumber beban.

Di titik inilah peremajaan menjadi penting.

PSR bukan hanya soal mengganti tanaman lama dengan tanaman baru. Program tersebut merupakan upaya memutus siklus rendah produktivitas dan membangun kembali kebun rakyat dengan fondasi yang lebih baik.

Dalam kegiatan tanam perdana, proses tersebut terlihat begitu nyata.

Tanah digali. Bibit disiapkan. Tangan-tangan yang biasanya bekerja di balik meja pemerintahan turun mendekati lahan.

Seorang petani tampak membungkuk sambil mengarahkan proses penanaman. Di sampingnya, sejumlah pihak ikut memperhatikan. Seorang petugas kepolisian terlihat berdiri tidak jauh dari lokasi.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan perkebunan tidak berdiri sendiri.

Ada petani yang akan merawat tanaman. Ada koperasi yang mengelola program. Ada pemerintah yang melakukan pendampingan. Ada lembaga yang mendukung pembiayaan. Ada pula unsur perbankan dan pihak lain yang diharapkan dapat memperkuat ekosistem usaha petani.

Dalam acara itu juga tampak penyerahan bantuan kepada kelompok penerima. Sebuah papan yang dipegang bersama para pihak menunjukkan simbol bahwa bantuan tidak berhenti pada seremoni penanaman.

Namun, justru setelah kamera berhenti merekam dan para pejabat meninggalkan lokasi, pekerjaan yang sebenarnya dimulai.

Bibit harus hidup.

Tanaman harus dirawat.

Kebun harus dijaga.

Pada akhirnya, produksi harus benar-benar meningkat.

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menyatakan komitmennya untuk mendampingi petani dalam pelaksanaan program tersebut.

Markus mengingatkan Koperasi Produsen Sinar Kelapa Makmur agar pengelolaan program dilakukan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas dan amanah.

Pesan tersebut menjadi penting karena koperasi berada di titik strategis dalam pelaksanaan program.

Koperasi bukan sekadar nama dalam dokumen administrasi. Di dalamnya terdapat kepentingan petani, pengelolaan bantuan, proses pelaksanaan kegiatan hingga keberlanjutan kebun setelah tanaman tumbuh.

“Kami berpesan kepada pengurus Koperasi Sinar Kelapa Makmur agar senantiasa transparan, akuntabel, dan amanah dalam mengelola program ini,” ujar Markus.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan PSR tidak dapat diukur hanya dari jumlah bibit yang ditanam atau acara seremonial yang terlaksana.

Ukuran keberhasilannya jauh lebih panjang.

Apakah tanaman tumbuh sehat?

Apakah petani mendapatkan pendampingan?

Apakah pengelolaan bantuan dapat dipertanggungjawabkan?

Apakah produktivitas kebun meningkat?

Paling penting, apakah pendapatan petani benar-benar membaik?

Peremajaan sawit memiliki konsekuensi yang tidak sederhana.

Ketika tanaman tua ditebang dan diganti tanaman baru, petani harus menghadapi masa ketika kebun belum menghasilkan sebagaimana tanaman produktif sebelumnya.

Artinya, program peremajaan harus dilihat sebagai investasi jangka panjang.

Petani membutuhkan kepastian bukan hanya pada hari penanaman, tetapi juga pada hari-hari setelahnya.

Bibit unggul tanpa pemeliharaan yang baik tidak otomatis menghasilkan kebun produktif.

Bantuan tanpa pengawasan dapat kehilangan efektivitas.

Koperasi tanpa tata kelola yang kuat dapat menghadapi persoalan dalam pengelolaan program.

Karena itu, PSR membutuhkan rantai pendampingan yang utuh dari penyiapan lahan, kualitas bibit, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian gulma dan hama, hingga tanaman memasuki masa menghasilkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!