Berita

Polres Bangka Barat Sukses Ungkap Jaringan Penyelundupan Timah Bangka ke Malaysia Johor

67
×

Polres Bangka Barat Sukses Ungkap Jaringan Penyelundupan Timah Bangka ke Malaysia Johor

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

MENTOK, Berita5.co.id — Di laut yang tampak tenang di pesisir Muntok, sejarah selalu berulang dalam senyap.

Ombak menghapus jejak perahu, tetapi tidak menghapus alur kekuasaan yang bergerak di baliknya.

Pada Kamis dini hari, 26 Februari 2026, ketika lampu-lampu kampung masih redup dan angin laut menyisakan bau asin di Pantai Enjel, Dusun Air Putih, Kecamatan Muntok, aparat dari Tim Hiu Barat Sat Polairud menghentikan sebuah pergerakan yang lebih tua dari negara, lebih licin dari hukum dan lebih gelap dari laut itu sendiri.

Dalam konferensi pers di Mako Polres Bangka Barat, Senin (2/3/2026), Kapolres Bangka Barat, AKBP Pradana Aditya Nugraha, berdiri di hadapan wartawan.

Ia membawa angka, barang bukti dan konstruksi perkara.

Namun di balik itu, ada kisah panjang tentang tanah yang dikeruk, laut yang dijadikan jalur senyap dan komoditas timah yang mengalir diam-diam menuju Johor, Malaysia.

Pengungkapan ini, kata polisi, bukan sekadar soal lima orang tersangka atau 11,2 ton pasir timah.

Ia adalah potret sebuah jaringan yaitu jaringan yang bekerja seperti urat nadi bawah tanah, dari gudang pengolahan hingga kapal cepat yang menunggu di tengah laut.

Seperti semua kisah tambang di Bangka, ia juga tentang manusia.

Polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka. Mereka bukan tokoh besar dalam sorotan publik.

Tidak ada jabatan politik, tidak ada nama perusahaan raksasa, tidak ada pemilik kapal mewah. Yang ada hanya peran-peran kecil dalam mesin besar, sopir truk, pengolah di gudang, pengemudi perahu pancung, koordinator lapangan dan seseorang yang diduga mengendalikan mobilisasi barang.

Namun dalam konstruksi perkara, kelima orang itu seperti simpul-simpul dalam jaring. Jika satu simpul ditarik, seluruh jaringan bergerak.

Di gudang, pasir timah mentah dilobi dan digoreng. Api tungku menyala seperti doa yang salah arah. Material disaring, dipadatkan, dikemas dalam plastik dan karung. Di luar, truk menunggu seperti hewan malam. Muatan diangkut menuju Pantai Enjel.

Di pesisir, buruh pikul bekerja dalam senyap. Mereka tidak bertanya asal barang. Mereka hanya tahu berat karung di bahu mereka.

Perahu pancung bergerak menuju titik gelap di tengah laut. Di sana, kapal cepat bermesin lima menunggu. Kapal tanpa identitas. Kapal tanpa nama. Kapal yang hanya dikenal warga sebagai “kapal hantu”.

Di atas kapal itu, komoditas negara berubah menjadi uang lintas batas.

Polisi menyebut jaringan ini telah melakukan dua kali pengiriman: 4,8 ton pada 15 Februari 2026, dan 6,4 ton pada 25 Februari 2026. Total 11,2 ton. Nilai Rp3,696 miliar.

Namun angka itu hanya potongan kecil dari arus besar.

“Ini jaringan yang bekerja sistematis. Kami tidak akan berhenti sampai di sini.” kata AKBP Pradana Aditya Nugraha.

Dalam bahasa hukum, lima tersangka dijerat Pasal 161 jo Pasal 35 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba dan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Dalam bahasa masyarakat, mereka adalah wajah kecil dari ekonomi besar yang tidak pernah benar-benar mati di Bangka.

Potensi Logam Tanah Jarang: Harta Lebih Mahal dari Timah

Di balik pasir timah, ada rahasia lain.

Dalam konferensi pers itu, Kapolres Bangka Barat menyinggung sesuatu yang jarang dibicarakan publik yaitu mineral ikutan timah yang mengandung unsur tanah jarang.

Tanah jarang bukan logam biasa. Ia digunakan dalam teknologi tinggi seperti baterai kendaraan listrik, turbin angin, alat kesehatan canggih, sistem militer, hingga elektronik modern.

Di dalam pasir timah Bangka, unsur itu bersembunyi seperti doa dalam tanah. Ia tidak terlihat oleh buruh pikul, tidak dihitung oleh sopir truk, tidak disadari oleh nelayan yang melihat kapal hantu di malam hari.

Tetapi ia bernilai strategis bagi negara.

“Kalau ini terus bocor ke luar negeri tanpa kendali. Negara bukan hanya rugi secara finansial, tetapi juga kehilangan potensi strategis jangka panjang.” kata AKBP Pradana Aditya Nugraha.

Di Bangka Belitung, tanah telah lama bicara dalam bahasa timah. Sejak masa kolonial, pulau ini digali untuk memenuhi pasar dunia. Namun kini, dunia berubah. Logam tanah jarang menjadi komoditas geopolitik.

Setiap karung pasir timah yang keluar tanpa izin, mungkin membawa serpihan masa depan teknologi bangsa.

Namun di kampung-kampung tambang, orang hanya melihat karung berat dan harga timah di warung kopi.

Pengungkapan Jaringan Penyelundupan Timah Bangka ke Malaysia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!