Bangka BaratBeritaBisnisEdukasiEkonomiLokalNews

Pesisir Dermaga II Tanjung Kalian Dimulai Juni 2026, Bagaimana Menjaga Kelancaran Transportasi dan Keselamatan Kawasan Pesisir

50
×

Pesisir Dermaga II Tanjung Kalian Dimulai Juni 2026, Bagaimana Menjaga Kelancaran Transportasi dan Keselamatan Kawasan Pesisir

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pelabuhan Tanjung Kalian di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, merupakan salah satu simpul transportasi laut terpenting yang menghubungkan Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera. Setiap hari, ribuan penumpang dan kendaraan melintasi jalur penyeberangan ini untuk mendukung mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik antarwilayah.

Untuk meningkatkan kapasitas pelayanan di masa mendatang, PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka akan memulai pembangunan Dermaga II di Pelabuhan Tanjung Kalian pada Juni 2026. Proyek yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya tersebut diawali dengan agenda peletakan batu pertama (groundbreaking) yang direncanakan berlangsung pada pekan kedua Juni.

Pembangunan infrastruktur pelabuhan pada dasarnya bukan hanya berkaitan dengan penambahan fasilitas transportasi. Di wilayah kepulauan seperti Bangka Belitung, keberadaan pelabuhan memiliki peran strategis dalam menjaga keterhubungan ekonomi, mempercepat distribusi barang kebutuhan masyarakat, sekaligus mendukung aktivitas sosial antarwilayah.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bangka, Agustinus Cahyo Upandika, mengatakan pembangunan Dermaga II ditargetkan selesai pada awal Desember 2026 sehingga dapat dimanfaatkan menjelang periode Natal dan Tahun Baru 2027.

Menurut dia, berbagai langkah telah disiapkan agar proses pembangunan tidak mengganggu aktivitas penyeberangan yang selama ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat.

“Kalau dari sisi darat hanya ada truk mixer untuk pekerjaan pembetonan dan truk pengangkut material. Tidak ada alat berat yang beroperasi di area darat,” kata Cahyo saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).

Pembangunan dermaga di kawasan pesisir memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pembangunan infrastruktur di daratan.

Selain harus memperhitungkan faktor teknis konstruksi, proyek juga perlu memperhatikan dinamika lingkungan laut seperti arus, gelombang, sedimentasi, serta aktivitas pelayaran yang tetap berlangsung selama pekerjaan berlangsung.

Karena itu, menurut Cahyo, sebagian besar alat berat yang digunakan dalam pembangunan Dermaga II akan beroperasi dari sisi laut. Skema tersebut dipilih untuk meminimalkan gangguan terhadap arus kendaraan maupun aktivitas penumpang di kawasan pelabuhan.

Pendekatan ini umum diterapkan pada proyek-proyek pelabuhan karena dapat mengurangi kepadatan aktivitas konstruksi di area pelayanan publik.

“Secara operasional pelabuhan tidak masalah dan berjalan normal seperti biasanya,” ujarnya.

Dalam sistem transportasi kepulauan, kapasitas pelabuhan menjadi salah satu faktor yang menentukan kelancaran mobilitas manusia dan barang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!