Bangka BaratEdukasiKesehatanLifestyleLokalPemerintahan

Perpustakaan Bangka Barat Hadirkan Sekolah Lansia SALSA, Menegaskan Literasi Tidak Pernah Mengenal Batas Usia

105
×

Perpustakaan Bangka Barat Hadirkan Sekolah Lansia SALSA, Menegaskan Literasi Tidak Pernah Mengenal Batas Usia

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Pagi itu, suasana lantai dua Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat terasa berbeda dari biasanya. Di antara rak-rak buku dan ruang baca yang tenang, puluhan ibu lansia duduk berjejer sambil saling menyapa dengan senyum hangat. Ada yang datang dengan langkah perlahan, ada pula yang membawa semangat besar untuk memulai pengalaman baru di usia senja.

Sabtu (9/5/2026) itu menjadi hari perdana dibukanya Sekolah Lansia Salimah (SALSA), program kolaborasi antara PD Salimah Bangka Barat dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat. Program ini bukan sekadar kegiatan rutin komunitas, melainkan bagian dari upaya menghadirkan perpustakaan sebagai ruang belajar sepanjang hayat yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Sebanyak 20 ibu lansia dari wilayah Mentok mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias sejak pukul 07.00 WIB. Mereka memulai aktivitas dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah dan penimbangan berat badan, kemudian dilanjutkan dengan senam kegel lansia yang bertujuan membantu menjaga kesehatan otot dasar panggul dan mengurangi risiko inkontenensia urine.

Namun di balik gerakan-gerakan sederhana itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar bahwa usia lanjut bukan akhir dari proses belajar, bukan pula alasan untuk berhenti tumbuh dan merasa berguna.

Di tengah masyarakat modern yang bergerak cepat, banyak lansia perlahan kehilangan ruang sosial. Tidak sedikit yang merasa tersisih karena perubahan zaman, teknologi, bahkan pola interaksi keluarga yang semakin sibuk. Karena itu, kehadiran SALSA menjadi lebih dari sekadar program kesehatan. Ia menjadi ruang pemulihan semangat, ruang bertemu, sekaligus ruang untuk kembali merasa dihargai.

Tawa ringan para peserta terdengar beberapa kali selama kegiatan berlangsung. Sebagian saling membantu mengikuti gerakan senam, sebagian lain berbagi cerita tentang kesehatan dan kehidupan sehari-hari. Kehangatan itu memperlihatkan bahwa perpustakaan ternyata mampu menghadirkan fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat membaca buku.

Ketua PD Salimah Bangka Barat, Riza Umami, mengatakan bahwa SALSA dibangun dengan semangat menghadirkan lansia yang sehat secara fisik, kuat secara mental dan tetap aktif dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, lansia tetap membutuhkan ruang belajar dan ruang interaksi agar kualitas hidup mereka tetap terjaga.

“Usia tidak boleh menjadi penghalang untuk terus belajar. Lansia tetap perlu merasa didengar, dihargai dan memiliki aktivitas yang membuat mereka bahagia. Karena itu SALSA hadir sebagai ruang bertumbuh bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, ST., M.Pd, menilai program tersebut menjadi bagian penting dari transformasi perpustakaan modern berbasis inklusi sosial.

Menurut Farouk, perpustakaan hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.

“Perpustakaan harus hadir sebagai ruang hidup masyarakat. Ketika perpustakaan bisa menjadi tempat edukasi kesehatan, ruang interaksi sosial dan tempat masyarakat merasa diperhatikan, maka fungsi literasi telah berjalan secara lebih utuh,” kata Farouk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!