PANGKALPINANG, Betita5.co.id – Namanya Dessy Ayutrisna. Tapi banyak orang mengenalnya dengan sapaan hangat: ‘Cece’. Bukan sekadar panggilan manja, melainkan cerita panjang tentang identitas, keberagaman, dan harapan baru untuk Pangkalpinang.
Lahir dari keluarga multikultur. ayah keturunan Tionghoa dan ibu Melayu, Dessy adalah cermin nyata filosofi lokal yang kaya makna: thong ngin fan ngin jit jong (Tionghoa dan Melayu setara dan bersama).
“Dari kecil saya sudah tumbuh dalam keberagaman. Dan saya tahu betul, Pangkalpinang itu kuat karena perbedaan yang dirangkul, bukan dijauhkan,” ucapnya dengan lembut.
Yang mengejutkan banyak orang, Cece Dessy ternyata seorang muslim sejak lahir. Ayahnya lah yang memeluk Islam ketika menikah dengan sang ibu. Dan justru dari situ, ia tumbuh dalam lingkungan yang saling menghormati, jauh dari sekat-sekat identitas.
Kini, saat ia mencalonkan diri sebagai Wakil Wali Kota dalam Pilkada ulang 2025, panggilan “Cece” bukan lagi sekadar nama. Ia adalah lambang kepercayaan masyarakat bahwa perempuan muda ini mampu menjembatani semua lapisan masyarakat tanpa melihat suku, agama, ataupun latar belakang.












