Berita

Panggung Zakat Di Mentok: 99 Mustahik, Narasi Solidaritas dan Strategi Citra Baznas Bangka Barat 

52
×

Panggung Zakat Di Mentok: 99 Mustahik, Narasi Solidaritas dan Strategi Citra Baznas Bangka Barat 

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

MSNTOK, Berita5.co.id  — Pagi di halaman Masjid Agung Mentok, Sabtu, 6 Maret 2026, tampak tenang seperti biasanya. Namun di balik barisan kursi plastik yang dipasang rapi dan spanduk kegiatan yang menggantung di sisi halaman, sebuah panggung sosial sedang berlangsung.

Di tempat itu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Bangka Barat menyalurkan bantuan zakat kepada 99 mustahik melalui program Jadub Berkah Bersama.

Bagi sebagian orang, kegiatan itu hanyalah agenda rutin lembaga zakat membagikan amplop bantuan kepada lansia, dhuafa, fakir miskin dan anak yatim.

Namun bagi pengamat kebijakan sosial, peristiwa itu juga memuat narasi yang lebih dalam tentang bagaimana lembaga filantropi keagamaan membangun legitimasi sosial, memperluas pengaruh kelembagaan, sekaligus memperkuat citra sebagai aktor kesejahteraan di tingkat daerah.

Setiap penerima bantuan mendapatkan Rp150 ribu per bulan, yang dibayarkan sekaligus untuk periode tiga bulan.

Nominal yang kecil dalam ukuran kebijakan publik. Tetapi cukup besar untuk menghadirkan simbol bahwa zakat masih memiliki tempat dalam peta solidaritas sosial masyarakat.

Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra Naro, menyadari betul bahwa kegiatan ini tidak sekadar pembagian bantuan.

Menurutnya, zakat adalah instrumen sosial yang dapat mengisi ruang kosong yang sering kali tidak dijangkau oleh program negara.

“Zakat bukan hanya ibadah individual. Ia juga instrumen keadilan sosial yang menghubungkan kepedulian para muzaki dengan kebutuhan para mustahik,” ujar Lili.

Ia menjelaskan bahwa program Jadub Berkah dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat yang berada di lapisan paling rentan.

“Prioritas kami adalah lansia, dhuafa, fakir miskin dan yatim piatu, terutama mereka yang belum tercatat sebagai penerima bantuan pemerintah. Jika seluruh tahap sudah berjalan, total penerima program ini mencapai sekitar 400 orang,” kata Lili.

Di halaman masjid itu, kata dia, BAZNAS ingin memperlihatkan satu pesan sederhana.

zakat adalah jembatan antara kepedulian dan kebutuhan.

Namun di balik panggung distribusi bantuan, terdapat persoalan lain yang lebih struktural pengumpulan zakat yang masih jauh dari potensi sebenarnya.

Wakil Ketua Bidang Pengumpulan BAZNAS Bangka Barat, H. Hasyim Baharudin, secara terbuka mengakui hal itu.

“Potensi zakat di Bangka Barat sebenarnya cukup besar, terutama dari kalangan ASN dan pelaku usaha. Tetapi realisasi pengumpulan zakat kita masih belum maksimal,” kata Hasyim.

Ia menyebut beberapa kabupaten lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mampu menghimpun zakat hingga lebih dari Rp 5 miliar per tahun.

Sementara Bangka Barat masih berada di bawah Rp 1 miliar.

“Ini menunjukkan masih banyak potensi zakat yang belum tergarap,” ujarnya.

Dalam dunia filantropi modern, kepercayaan publik adalah mata uang utama.

Wakil Ketua Bidang Keuangan BAZNAS Bangka Barat, H. Zumrowi Achyar, mengatakan bahwa lembaganya berupaya menjaga transparansi pengelolaan dana zakat.

“Dana zakat yang kami kelola berasal dari amanah masyarakat. Karena itu penyalurannya harus dilakukan secara transparan dan tepat sasaran,” katanya.

Ia juga menanggapi rumor yang sempat beredar di masyarakat mengenai penggunaan dana BAZNAS untuk program pemerintah.

“Isu bahwa dana BAZNAS digunakan untuk program MBG pemerintah itu tidak benar. Penyaluran dana zakat dilakukan berdasarkan program BAZNAS dan proposal masyarakat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut penting.

Sebab berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan publik merupakan faktor utama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui lembaga resmi.

Di sisi lain, Wakil Ketua Bidang Administrasi BAZNAS Bangka Barat, H. Nurzali Hamid, mengungkapkan bahwa jumlah permohonan bantuan dari masyarakat terus meningkat.

“Kami menerima banyak permohonan bantuan, baik untuk kebutuhan kesehatan, pendidikan maupun bantuan sosial keluarga kurang mampu,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat lembaga seperti BAZNAS semakin dibutuhkan.

“Kami berusaha melakukan verifikasi secara ketat agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak,” katanya.

BAZNAS dan Peran Sebagai Pengetas Kemiskinan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *