Bangka BaratLaw&CrimeLingkunganLokalNewsPariwisataPerikanan

Nelayan Tempilang Kehilangan Masa Depan: Dugaan Penyeludupan Timah Mencuat dan Reklamasi Mangkrak

74
×

Nelayan Tempilang Kehilangan Masa Depan: Dugaan Penyeludupan Timah Mencuat dan Reklamasi Mangkrak

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim Investigasi

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Tumpukan rumpon beton yang diduga merupakan bagian dari program reklamasi kawasan pertambangan laut hingga kini masih terlihat terbengkalai di daratan pesisir Tempilang, Bangka Barat. Di saat yang sama, sejumlah nelayan mengaku semakin resah dengan aktivitas perairan yang menurut mereka diduga berkaitan dengan pergerakan timah yang tidak melalui jalur resmi.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat pesisir mengenai efektivitas reklamasi serta pengawasan terhadap aktivitas pertambangan dan distribusi timah di wilayah laut Tempilang.

Berdasarkan pantauan lapangan, rumpon-rumpon beton yang disebut warga telah berada di lokasi selama bertahun-tahun tampak ditumbuhi semak belukar dan belum ditempatkan ke laut sebagaimana fungsi awalnya sebagai sarana pemulihan habitat ikan.

Sementara itu, sejumlah nelayan mengaku hasil tangkapan mereka terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir sehingga mereka terpaksa melaut lebih jauh dengan biaya operasional yang semakin tinggi.

“Kalau memang ini reklamasi, kenapa laut kami tetap rusak?” ujar Hasan (54), nelayan Air Lintang yang identitas lengkapnya tidak disebutkan atas alasan keamanan, Senin (1/6/2026)

Siang itu Pantai Pasir Kuning tampak seperti biasanya.

Anak-anak berlarian mengejar ombak.

Pengunjung duduk menikmati kelapa muda.

Wisatawan sibuk mengabadikan panorama laut yang tenang.

Tidak ada yang tampak ganjil.

Namun beberapa ratus meter dari lokasi wisata, tumpukan beton besar berdiri diam di tengah semak liar.

Beton-beton itu bukan bangunan.

Bukan pula proyek yang sedang dikerjakan.

Melainkan rumpon reklamasi yang menurut warga seharusnya telah lama ditenggelamkan ke dasar laut.

Hasan masih mengingat ketika material tersebut pertama kali didatangkan.

Saat itu masyarakat percaya bahwa kerusakan dasar laut akibat aktivitas pertambangan akan dipulihkan.

Nelayan berharap habitat ikan kembali terbentuk.

Harapan itu kini tersisa sebagai cerita.

“Yang kami lihat cuma datang, ditumpuk, lalu selesai. Setelah itu tidak ada lagi yang kami tahu,” katanya.

Di hadapan tumpukan beton yang mulai ditelan semak, Hasan terlihat lebih banyak diam.

Aktivitas wisatawan yang berlibur di Pantai Pasir Kuning, pada hari Libur Lahir Pancasila (1/6/2026)

Matanya sesekali mengarah ke laut.

Laut yang dulu menjadi sumber kehidupan keluarganya.

Laut yang kini semakin sulit ditebak.

Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, laut mungkin hanya pemandangan.

Bagi Hasan, laut sebagai dapur.

Ia membesarkan anak-anaknya dari hasil melaut.

Ia membayar kebutuhan sekolah dari ikan yang ditangkapnya.

Ia membangun rumah dari hasil yang diberikan laut.

Namun beberapa tahun terakhir, laut seolah semakin menjauh.

Jika dahulu nelayan dapat memperoleh hasil tangkapan tidak jauh dari pantai, kini mereka harus menghabiskan lebih banyak bahan bakar untuk mencapai lokasi tangkap yang dianggap masih produktif.

Biaya operasional meningkat.

Sementara hasil yang dibawa pulang sering kali tidak sebanding.

“Kami sekarang lebih banyak berjudi dengan solar,” kata Hasan.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Namun bagi nelayan kecil, kalimat tersebut menggambarkan ketidakpastian hidup yang mereka hadapi setiap hari.

Sekali melaut berarti mempertaruhkan uang belanja keluarga.

Jika hasil sedikit, kerugian harus ditanggung sendiri.

Dugaan Aktivitas Timah yang Meresahkan Warga

Di tengah persoalan reklamasi yang belum memberikan dampak nyata menurut warga, muncul keresahan lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!