Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
BANGKA BARAT, Berita5.co.id – Pantai pasir Kuning pernah menjadi tempat anak-anak berlari mengejar ombak, tempat nelayan melepas lelah setelah bertaruh nyawa di laut dan tempat keluarga menikmati senja dengan hati tenang. Namun kini, ketika malam turun dan lampu-lampu mulai kehilangan cahaya, Pantai Pasir Kuning perlahan berubah wajah.
Ia tidak lagi hanya menyimpan bau asin laut.
Ia mulai menyimpan bau alkohol, ketakutan dan pembiaran.
Di sudut-sudut beton yang lembab, botol minuman keras bergelimpangan seperti bangkai pesta yang ditinggalkan tanpa rasa malu. Plastik bekas, bungkus rokok, pecahan kaca, hingga sampah yang berserakan menjadi saksi bisu bahwa malam di kawasan wisata itu tidak lagi benar-benar tidur.
Foto yang diterima redaksi memperlihatkan wajah lain dari Pantai Pasir Kuning. Sebuah botol minuman keras tergeletak di lantai kusam, dikelilingi sampah dan jejak aktivitas malam yang diduga berlangsung tanpa pengawasan. Pemandangan itu bukan sekadar potret kekotoran. Ia sebagai simbol tentang ruang publik yang perlahan kehilangan kehormatan sosialnya.
Masyarakat sekitar menyebut kondisi tersebut bukan lagi persoalan sepele.
Mereka melihat sesuatu yang lebih gelap sedang tumbuh.
Dugaan konsumsi minuman keras, aktivitas mencurigakan pada malam hari, hingga perilaku menyimpang disebut mulai menjadi bayang-bayang baru yang menghantui kawasan pesisir itu.
“Kalau malam suasananya berubah total. Kadang terdengar orang ribut, botol pecah, teriakan mabuk, anak-anak muda nongkrong sampai subuh. Orang tua sekarang takut melewati kawasan itu malam-malam,” ujar Ali (56), nama disamarkan demi alasan keamanan, Minggu (17/06/2026).
Nada suaranya terdengar berat.
Bukan hanya karena marah, tetapi karena kecewa.
Ia mengaku sedih melihat kawasan yang dulu menjadi ruang keluarga perlahan berubah menjadi titik kumpul perilaku destruktif.
“Yang rusak bukan cuma pantainya. Mental sosial masyarakat juga ikut rusak kalau semua ini dianggap biasa,” katanya.
Di balik botol-botol kosong itu, sesungguhnya ada pesan yang jauh lebih mengerikan.
Ada generasi muda yang perlahan kehilangan arah.
Ada ruang wisata yang mulai dirampas malam.
Ada masyarakat yang dipaksa terbiasa melihat penyimpangan.
Pantai Pasir Kuning dulunya dikenal sebagai ruang terbuka masyarakat pesisir. Tempat orang datang mencari tenang, bukan mencari pelarian dalam mabuk dan kerusakan sosial. Namun beberapa tahun terakhir, sebagian warga mulai merasa kawasan itu berubah menjadi ruang gelap yang hidup setelah matahari tenggelam.
Sebagian pedagang kecil bahkan memilih menutup warung lebih awal karena takut terhadap situasi yang dianggap semakin tidak kondusif.
“Wisatawan keluarga mulai berkurang kalau malam. Orang takut. Takut ribut, takut ada orang mabuk, takut anak-anak ikut melihat hal buruk,” ujar seorang pedagang di sekitar pantai.
Ketakutan masyarakat itu bukan tanpa alasan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang publik yang kehilangan pengawasan sangat rentan menjadi titik tumbuh penyakit masyarakat.
Dalam penelitian Disorganisasi Sosial dan Kenakalan Remaja di Kawasan Pesisir, disebutkan bahwa kawasan publik dengan lemahnya kontrol sosial dan minim aktivitas positif berpotensi melahirkan perilaku menyimpang seperti konsumsi alkohol, penyalahgunaan narkoba hingga kriminalitas ringan.
Tumpukan minuman keras di pesisir Pantai Pasir Kuning yang menjadi indikasi pemicu Pekat
Sosiolog Universitas Indonesia, Soerjono Soekanto, menjelaskan bahwa penyimpangan sosial tumbuh ketika norma masyarakat melemah dan kontrol kolektif tidak lagi berjalan.
Di Pantai Pasir Kuning, warga mulai merasakan gejala itu.
Malam yang dulu menghadirkan angin laut, kini menghadirkan kecemasan.
Minuman keras bukan hanya soal orang mabuk lalu pulang sempoyongan.
Alkohol sering menjadi pintu masuk bagi lingkaran sosial yang lebih gelap.
Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam berbagai laporan nasional menyebut lingkungan yang permisif terhadap alkohol memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penyalahgunaan zat adiktif lainnya.
Penelitian dalam Journal of Substance Abuse Treatment juga menjelaskan bahwa konsumsi alkohol di ruang publik tanpa pengawasan berkorelasi dengan meningkatnya perilaku agresif, kekerasan, hingga tindak kriminal berbasis kelompok.
Karena itu, warga mulai khawatir Pantai Pasir Kuning sedang bergerak menuju titik berbahaya.












