Oleh: Doi Ahada
Bukan Sekadar Penghijauan, tetapi Merawat Identitas, Kesehatan, dan Masa Depan Bumi Serumpun Sebalai
OPINI, BERITA5.CO.ID — Ada sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi bisa menjadi sangat indah.
Bayangkan suatu pagi, ketika matahari baru naik di langit Pangkalpinang. Para aparatur sipil negara mulai berdatangan ke tempat kerja.
Kendaraan perlahan memasuki kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Namun suasananya berbeda. Di sepanjang jalan, tumbuh pohon-pohon pelawan.
Batangnya yang memiliki karakter warna merah kecokelatan berdiri di antara hijaunya dedaunan. Di beberapa bagian, burung-burung hinggap. Udara terasa lebih teduh.
Masyarakat yang berjalan kaki tidak hanya melihat gedung-gedung pemerintahan, tetapi juga menikmati sebuah lanskap yang membawa identitas Bangka Belitung ke tengah pusat pemerintahan.
Itulah sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana kawasan perkantoran Gubernur Bangka Belitung bisa menjadi lebih dari sekadar tempat bekerja. Ia bisa menjadi ruang hijau yang hidup.
Dan salah satu pohon yang pantas dipertimbangkan untuk menghiasi kawasan itu adalah pelawan (Tristaniopsis merguensis).
Pelawan, pohon yang membawa cerita Bangka Belitung Pelawan bukan sekadar pohon.
Bagi masyarakat Bangka Belitung, ia memiliki cerita panjang tentang kehidupan, hutan, pangan, madu, bahkan pengobatan tradisional.
Penelitian mengenai pelawan di Bangka menunjukkan bahwa pohon ini memiliki hubungan ekologis yang sangat penting dengan berbagai hasil hutan bukan kayu.
Penelitian IPB mengenai ekologi pelawan di Bangka Tengah menemukan bahwa pada sistem perakaran pelawan terdapat jamur edible yang dikenal masyarakat sebagai jamur pelawan dan memiliki nilai ekonomi.
Penelitian lain bahkan menempatkan pelawan sebagai spesies kunci bagi keberlanjutan keanekaragaman hayati di Taman Keanekaragaman Hayati Namang, Bangka Tengah.
Mengapa? Karena keberadaan pelawan berhubungan dengan keberadaan jamur pelawan serta madu pelawan yang dihasilkan lebah.
Artinya, ketika kita menanam satu pohon pelawan, sesungguhnya yang sedang kita tanam bukan hanya sebatang pohon. Kita sedang menanam sebuah ekosistem kecil.
Jika pelawan tumbuh di kawasan perkantoran gubernur. Bayangkan sepanjang jalan di kawasan perkantoran Pemprov Babel ditanami pelawan secara terencana.
Bukan ditanam asal-asalan. Tetapi dengan desain lanskap yang baik, jarak tanam yang tepat, pemilihan bibit berkualitas, sistem pemeliharaan, serta ruang yang memungkinkan pohon tumbuh sehat.
Kawasan perkantoran pemerintahan bisa berubah menjadi semacam koridor pelawan.
Pagi hari, pegawai yang berjalan menuju kantor akan melewati pepohonan khas daerahnya sendiri.
Siang hari, masyarakat yang datang mengurus pelayanan pemerintahan mendapatkan suasana yang lebih teduh dan nyaman.
Sore hari, kawasan itu bisa menjadi ruang berjalan kaki yang menyenangkan.
Gedung pemerintahan tidak lagi terasa kaku. Ia menjadi bagian dari lingkungan yang hidup.
Dan mungkin, tanpa disadari, masyarakat akan mulai bertanya: “Pohon apa itu?”
Jawabannya akan membanggakan: “Itu pelawan. Pohon khas yang tumbuh di tanah Bangka Belitung.”
Di situlah pendidikan lingkungan berlangsung tanpa harus selalu menggunakan papan pengumuman.
Tentang Oksigen? Manfaatnya Ada
Ada anggapan yang berkembang bahwa pohon pelawan menghasilkan oksigen paling baik dibandingkan jenis pohon lainnya dan oksigennya dapat menjadi terapi bagi penderita gangguan pernapasan.
Gagasan tersebut terdengar menarik, tetapi penelitian ilmiah yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa pelawan merupakan pohon dengan produksi oksigen tertinggi atau bahwa oksigen dari pelawan secara khusus dapat menjadi terapi penyakit pernapasan.
Penelitian tentang pohon perkotaan justru menunjukkan bahwa manfaat oksigen dari pohon perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Atmosfer bumi sudah mengandung oksigen dalam jumlah sangat besar sehingga tambahan oksigen dari pohon bukanlah manfaat kesehatan utama yang perlu ditekankan.
Manfaat lain seperti perbaikan lingkungan, peneduhan, pengaturan suhu, kualitas udara, dan kenyamanan ruang justru lebih penting.
Namun, itu bukan berarti menanam pelawan menjadi kurang penting.
Justru sebaliknya. Ruang hijau perkotaan memiliki hubungan yang jauh lebih luas dengan kesehatan manusia.
WHO mencatat bahwa keberadaan ruang hijau berkaitan dengan berbagai manfaat kesehatan, termasuk kesehatan mental, aktivitas fisik, kesehatan kardiovaskular, serta manfaat sosial. Ruang hijau juga dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas udara.
Maka, jika masyarakat ingin berjalan di bawah rindangnya pelawan, menikmati udara yang lebih nyaman, terlindung dari panas matahari dan mendapatkan suasana lingkungan yang lebih menyenangkan, itulah manfaat kesehatan yang lebih masuk akal untuk dikedepankan.
Ada “Apotik Hijau” di Balik Daun Pelawan
Yang lebih menarik lagi, penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir mulai memperlihatkan potensi besar daun pelawan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2025 meneliti ekstrak air daun Tristaniopsis merguensis.
Penelitian tersebut menemukan kandungan fenolik total yang tinggi, flavonoid, serta sejumlah senyawa metabolit.
Ekstrak air daun pelawan juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat dalam pengujian laboratorium dan menunjukkan potensi aktivitas antidiabetes secara in vitro.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Toxicology Reports pada 2025 juga menemukan aktivitas antioksidan yang kuat pada fraksi tertentu dari daun pelawan berdasarkan pengujian DPPH dan ABTS.
Penelitian itu mengidentifikasi sejumlah metabolit yang terkandung dalam daun pelawan.
Bahkan penelitian yang terbit di Brazilian Journal of Biology pada 2025 secara khusus mengkaji seduhan atau dekok daun pelawan.
Penelitian tersebut menemukan kandungan fenolik dan flavonoid serta mengidentifikasi sekitar 30 senyawa secara metabolomik, termasuk kelompok polifenol.
Temuan tersebut memberi alasan kuat untuk melihat pucuk daun pelawan bukan sekadar bagian dari pohon.












