Di sinilah peran Bunda Literasi menjadi strategis. Ia menjembatani jarak antara fasilitas dan masyarakat. Ia menggerakkan, mengajak, sekaligus memastikan bahwa literasi benar-benar dirasakan manfaatnya.
Dalam skala yang lebih luas, rendahnya literasi sering dikaitkan dengan rendahnya daya saing bangsa. Masyarakat yang tidak terbiasa membaca cenderung kesulitan memahami informasi, rentan terhadap disinformasi dan kurang adaptif terhadap perubahan.
Sebaliknya, masyarakat yang literat memiliki kemampuan berpikir kritis, lebih terbuka terhadap pengetahuan baru dan lebih siap menghadapi tantangan global.
Dengan demikian, literasi bukan sekadar isu pendidikan, tetapi isu strategis pembangunan.
Capaian Bangka Barat dapat menjadi model praktik baik. Namun, model ini hanya akan bermakna jika mampu dipertahankan dan direplikasi secara berkelanjutan.
Salah satu kelemahan umum dalam banyak program pembangunan adalah keberlanjutan. Program berjalan baik di awal, tetapi melemah seiring waktu karena kehilangan penggerak.
Literasi pun menghadapi risiko yang sama.
Bunda Literasi hadir sebagai penjaga ritme. Ia memastikan bahwa gerakan literasi tidak berhenti sebagai euforia sesaat, tetapi terus hidup dalam keseharian masyarakat. Dengan pendekatan yang fleksibel dan humanis, ia mampu menjangkau kelompok yang sering kali terlewat oleh program formal ibu rumah tangga, anak-anak di lingkungan non-sekolah hingga komunitas kecil di pelosok.
Visi pembangunan Bangka Barat yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan sebagai arah yang tepat. Namun, visi ini membutuhkan instrumen yang konkret dan literasi salah satunya.
Tantangan ke depan bukan lagi meningkatkan angka, tetapi memperdalam makna.
Apakah masyarakat membaca karena kewajiban, atau karena kebutuhan?
Apakah literasi berhenti di sekolah, atau tumbuh di rumah?
Apakah perpustakaan hanya dikunjungi, atau benar-benar dimanfaatkan?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan.
Pada akhirnya, literasi tentang bagaimana manusia memahami dunia dan bagaimana ia mengambil peran di dalamnya. Dalam proses panjang itu, kehadiran sosok penggerak seperti Bunda Literasi menjadi sangat penting.
Bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi.
Karena dari akar yang kuat, akan tumbuh peradaban yang kokoh.












