Penulis: Belva Al Akhab, Satrio
MENTOK, Berita5.co.— Di sebuah ruangan kantor yang sederhana, jauh dari gemuruh sirene kebakaran dan hiruk-pikuk bencana, Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Rambat Menduyung, Melyadi, justru memilih bertarung dari titik yang paling sunyi: kesadaran manusia.
“Yang paling penting itu pencegahan. Karena kalau sudah terjadi, itu artinya kita sudah terlambat satu langkah,” ujarnya, membuka percakapan dengan nada datar, tetapi sarat makna, Rabu (22/04/2026).
Di tengah musim yang masih diselingi hujan, ia sudah membaca tanda-tanda yang tidak kasat mata. Dari forum koordinasi nasional yang diikutinya bersama jajaran kepolisian dan kementerian kehutanan, satu kesimpulan mengendap kemarau akan datang dan bersamanya, risiko kebakaran hutan kembali mengintai.
“Kita kemarin ikut PIKOM, diundang Kapolres Bangka Barat. Ada Wakapolri, kehutanan pusat, Kapolda, Kapolres, sampai ke kami di daerah. Semua bicara satu hal untuk antisipasi kemarau panjang,” katanya.
Ia sempat mengulas istilah yang muncul dalam forum tersebut “El Niño Godzilla” dengan senyum tipis yang menyiratkan sikap kritis.
“Secara teori di Indonesia tidak ada itu El Niño Godzilla. Yang ada El Niño saja. Tapi intinya sama, kita harus siap,” tambahnya.
Prediksi menyebutkan puncak kemarau akan terjadi pada Agustus. Saat ini, hujan masih turun hampir setiap hari, seolah memberi jeda yang menenangkan. Namun bagi Melyadi, jeda itu bukan alasan untuk lengah.
“Ini memang masih hujan, alhamdulillah. Tapi ini kan prediksi. Kadang bisa tepat, kadang tidak. Tapi biasanya mendekati benar itu ada,” ujarnya.
Di balik kalimat yang terdengar sederhana itu, tersimpan cara pandang seorang pengelola hutan yang tidak menunggu kepastian untuk bergerak. Ia memilih bersiap.
“Kami sudah siap bekerja sama dengan Kapolres, dengan pemerintah daerah, dengan dinas lingkungan hidup, BPBD, semua stakeholder. Kita tidak bisa kerja sendiri untuk urusan hutan ini,” tegasnya.
Namun dari semua strategi yang disiapkan, satu hal yang terus ia ulang bahkan hampir seperti mantra dengan pentingnya edukasi.
“Yang menentukan itu langkah preventif. Kalau masyarakat sudah paham, kita tidak perlu repot memadamkan,” katanya.
Ia tidak ingin hutan hanya dijaga dengan alat. Ia ingin hutan dijaga oleh kesadaran.
“Kami akan turun langsung. Sosialisasi ke kecamatan, ke desa-desa. Kita sampaikan, jangan membuka lahan dengan cara membakar, apalagi di kawasan hutan,” ucapnya.
Baginya, kebakaran bukan sekadar persoalan teknis. Ia bagian persoalan perilaku.
“Kalau kita jujur, kebakaran itu sebagian besar karena manusia. Mungkin 90 persen. Alam itu kecil sekali perannya, paling satu persen lebih kurang,” katanya tanpa ragu.
Kalimat itu bukan sekadar data melainkan bentuk keberanian untuk menyebut sumber masalah secara terang.
Namun Melyadi tidak menutup mata terhadap realitas sosial yang lebih kompleks.












