Berita

Laut Dirampas, Nelayan Dipinggirkan: Jeritan Air Lintang Melawan Tambang Ilegal di Pantai Pasir Kuning

73
×

Laut Dirampas, Nelayan Dipinggirkan: Jeritan Air Lintang Melawan Tambang Ilegal di Pantai Pasir Kuning

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio

TEMPILANG, Berita5.co.id — Jumat pagi (24/04/2026), laut di Pantai Pasir Kuning tidak lagi menjadi ruang hidup yang ramah bagi nelayan.

Ia telah berubah menjadi medan konflik tempat di mana mesin-mesin tambang berbicara lebih lantang daripada suara manusia yang menggantungkan hidupnya pada ombak.

Di garis pantai itu, Ali (56), nama yang disamarkan, berdiri dengan jaring koyak di tangannya.

Bukan satu, bukan dua tetapi berkali-kali jaringnya pulang dalam keadaan hancur. Bukan karena badai, bukan karena alam. Tetapi karena aktivitas tambang ilegal yang melintas tanpa peduli.

“Dulu kami pulang bawa ikan. Sekarang, sering pulang bawa jaring rusak,” ujar Ali, suaranya datar, namun menyimpan kemarahan yang tertahan.

Apa yang terjadi di perairan Desa Air Lintang bukan sekadar gangguan aktivitas. Ini sebagai bentuk pengambilalihan ruang hidup secara perlahan, diam-diam tetapi brutal.

Kapal-kapal tambang, sepit dan speedboat bergerak tanpa kendali. Mereka memotong jalur tangkap nelayan, melindas jaring yang telah dipasang dan meninggalkan kerusakan tanpa tanggung jawab.

“Mereka lewat saja. Tidak peduli ada jaring atau tidak. Kalau kena baling-baling, habis,” kata Ali.

Tidak ada peringatan. Tidak ada kompensasi. Tidak ada rasa bersalah.

Yang ada hanya kerugian yang harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil.

Jaring kepiting, jaring tebak, hingga alat tangkap lainnya kini menjadi korban rutin. Terseret, putus atau hilang di dasar laut yang semakin keruh akibat aktivitas tambang.

“Sekali rusak, kami harus perbaiki. Biayanya tidak kecil. Kadang hasil tangkapan tidak cukup untuk menutup itu,” ujar Ali.

Namun kerusakan alat hanyalah gejala. Penyakit utamanya jauh lebih dalam laut yang berubah.

Air menjadi keruh. Ikan menjauh. Ruang tangkap menyempit.

“Kalau air sudah keruh, ikan menjauh. Kami harus melaut lebih jauh. Biaya naik, hasil belum tentu ada,” katanya.

Ini bukan lagi soal ekonomi semata. Ini soal keberlangsungan hidup.

Di kejauhan, kem-kem tambang berdiri seperti simbol dominasi. Laut yang dahulu menjadi ruang penuh harapan kini berubah menjadi jalur industri liar.

Siang dan malam, mesin bekerja tanpa jeda. Tidak ada batas. Tidak ada jeda bagi alam untuk pulih.

Sementara itu, nelayan seperti Ali dipaksa beradaptasi dengan ketidakpastian.

“Sekarang bukan cuma cari ikan. Kami juga harus jaga jaring, lihat kapal tambang. Rasanya seperti kami ini tamu di laut sendiri,” ucapnya.

Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia potret nyata dari perampasan ruang hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *