Penulis: Tim
MENTOK, Berita5.co.id — Di sebuah ruang pertemuan yang dipenuhi percakapan tentang masa depan olahraga daerah, Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman berdiri dengan satu pesan yang terdengar sederhana, namun sarat makna politik dan simbolik yaitu sepak bola Bangka Barat harus bangkit.
Rapat kerja PSSI Kabupaten Bangka Barat tahun 2026 yang digelar di Hotel Yasmin Star Mentok pada Sabtu (7/3/2026) tidak sekadar menjadi forum penyusunan program organisasi.
Di ruang itu, sebuah narasi besar sedang dibangun. Narasi tentang kebangkitan sepak bola daerah, sekaligus tentang kepemimpinan yang ingin terlihat hadir di tengah semangat rakyat.
Di hadapan para pengurus sepak bola daerah, Yus Derahman menyampaikan gagasan yang ia sebut sebagai fondasi pembangunan sepak bola Bangka Barat: desa.
Menurutnya, masa depan sepak bola daerah tidak lahir dari ruang rapat atau meja administrasi, melainkan dari lapangan-lapangan tanah di kampung-kampung tempat anak-anak menendang bola dengan kaki telanjang dan mimpi yang tidak pernah kecil.
“Siapkan dari sekarang. Mau ke mana bentuknya, diambil dari desa-desa itu yang bibit unggul,” ujar Yus Derahman.
Kalimat itu terdengar seperti strategi olahraga. Namun bagi sebagian orang, ia juga merupakan pesan kebijakan yang kuat membangun dari desa, membangun dari rakyat.
Dalam narasi yang ia bangun, desa tidak hanya menjadi ruang geografis, tetapi juga simbol romantisme sepak bola rakyat. Tempat di mana gairah olahraga tumbuh tanpa fasilitas mewah, tanpa sorotan kamera, tetapi penuh semangat kompetisi.
Bangka Barat, kata Yus Derahman, memiliki satu kekuatan yang jarang dimiliki daerah lain yaitu tradisi turnamen kampung yang hidup hampir sepanjang tahun.
Di banyak desa, lapangan sepak bola menjadi panggung pertemuan sosial masyarakat.
Turnamen digelar bukan sekadar pertandingan, tetapi juga perayaan kolektif yang menyatukan warga.
“Turnamen di Bangka Barat ini luar biasa. Turnamen kampung, tiap bulan ada, tembus. Dari situlah kita lihat bibit-bibitnya,” katanya.
Di balik pernyataan itu tersimpan sebuah narasi yang lebih luas bahwa sepak bola rakyat adalah sumber energi sosial yang dapat diolah menjadi prestasi daerah.
Bagi Yus Derahman, lapangan desa adalah laboratorium alami bagi lahirnya pemain-pemain masa depan.
Di rumput yang tidak selalu rata, di bawah panas matahari atau hujan yang tiba-tiba turun, anak-anak Bangka Barat belajar tentang keberanian, kegigihan dan kerja sama.
Di sanalah, menurutnya, generasi emas sepak bola Bangka Barat harus dilahirkan.
Namun pidato itu mencapai puncaknya ketika pembicaraan beralih pada Porprov Bangka Belitung 2026.
Nada suara Yus Derahman berubah lebih tegas.
Ia tidak sekadar berbicara tentang partisipasi. Ia berbicara tentang kemenangan.
“Bangka Barat harus juara di Porprov. Porprov ini kita harus juara. Juara satu lah,” ujarnya.
Kalimat itu segera menjadi pesan utama rapat kerja tersebut. Sebuah target ambisius yang sekaligus menjadi simbol tekad pemerintah daerah.












