Babel hari iniBeritaLokal

Jeritan Nelayan Tak Digubris, Muara Jelitik Dikuasai Kepentingan Tambang

44
×

Jeritan Nelayan Tak Digubris, Muara Jelitik Dikuasai Kepentingan Tambang

Sebarkan artikel ini

SUNGAILIAT, Berita5.co.di – Muara Air Kantung Jelitik bukan lagi sekadar dangkal, tapi sedang dibunuh perlahan. Urat nadi ratusan nelayan tempat sandar, jalur hidup, dan ruang kerja kini berubah jadi medan konflik yang dibiarkan tanpa kendali. Negara terlihat hadir di atas kertas, tapi absen di lapangan.

Pendangkalan yang terus terjadi bukan lagi bisa disebut “proses alam”. Ini akumulasi dari pembiaran panjang terhadap aktivitas penambangan laut di perairan Jelitik yang kian mendekat ke pintu muara. Jalur yang dulu aman kini menyempit, dangkal, dan berbahaya. Nelayan dipaksa berjudi dengan keselamatan setiap kali melaut.

Kerusakan ini nyata. Perahu rusak, mesin jebol, waktu melaut terpangkas, hasil tangkapan merosot. Tapi yang lebih parah: rasa keadilan ikut karam bersama lumpur yang menutup alur muara.

Lebih menyakitkan lagi, di saat nelayan menjerit, suara mereka tenggelam oleh bising mesin tambang inkonvensional (TI) yang terus beroperasi di mulut muara. Protes sudah berulang kali dilakukan dari aksi lapangan hingga surat ke kementerian namun tak satu pun membuahkan perubahan berarti.

“Kami sudah habis cara. Demo sudah, kirim surat sudah. Tapi muara tetap begini. Jadi sebenarnya kami ini dianggap apa?” tegas At (67), nelayan tradisional.

Situasi makin memalukan ketika organisasi yang seharusnya menjadi benteng nelayan justru melemah oleh konflik internal. Perpecahan membuat suara nelayan kehilangan daya tekan. Sementara di sisi lain, aktivitas tambang justru semakin leluasa.

Kebijakan yang diambil pun menimbulkan tanda tanya besar. Di tengah tuntutan agar muara dibersihkan dari aktivitas tambang, justru muncul legalisasi puluhan ponton PIP di sekitar alur masuk. Dalih “pengerukan” digunakan, tapi praktik di lapangan terlihat seperti penambangan biasa.“Kalau benar mau bantu, kenapa caranya malah seperti ini? Ini muara mau diselamatkan atau sekalian dihabiskan?” kritik nelayan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *