Berita

Jejak Islamisasi dan Wisata Religi Dari Masjid Tertua di Mentok 

69
×

Jejak Islamisasi dan Wisata Religi Dari Masjid Tertua di Mentok 

Sebarkan artikel ini

Sejarawan lokal Bangka dalam arsip Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V mencatat bahwa hubungan Melayu–Tionghoa di Mentok telah terjalin sejak perdagangan timah abad ke-18.

Banyak keluarga Tionghoa menetap dan hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu.

Tradisi saling menghormati ibadah lahir alami.

Di hari raya Imlek, warga Muslim membantu parkir kendaraan di klenteng. Saat Idul Fitri, warga Tionghoa datang bersilaturahmi.

Masjid dan klenteng berdiri seperti dua doa yang saling menjaga.

Islamisasi di Mentok tidak dilakukan melalui penaklukan atau paksaan. Ia tumbuh melalui kehidupan.

Para ulama Melayu mengajar anak-anak mengaji di serambi masjid. Pedagang Muslim mengajarkan akhlak melalui kejujuran. Pernikahan lintas suku mempertemukan budaya.

Dalam kajian Islam Nusantara oleh sejarawan Azyumardi Azra, disebutkan bahwa penyebaran Islam di kepulauan Indonesia umumnya berlangsung damai melalui jaringan ulama dan perdagangan. Mentok adalah bagian dari pola itu.

Masjid Jami Mentok menjadi pusat pendidikan agama, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an dan orang dewasa berdiskusi tentang hukum Islam.

Jejak Islamisasi tidak hanya di dinding masjid, tetapi di kebiasaan masyarakat.

Pada bulan Ramadhan, Masjid Jami Mentok hidup kembali dalam suasana yang lebih khusyuk.

Lampu-lampu tua menyala. Anak-anak membawa mushaf kecil. Para nelayan datang setelah pulang melaut.

Di halaman masjid, ibu-ibu Melayu membagi bubur kacang hijau untuk berbuka. Remaja masjid membaca Al-Qur’an bergiliran.

Ramadhan di Mentok menjadi wisata religi yang menyentuh hati.

Pengunjung dari luar daerah datang untuk merasakan suasana tarawih di masjid tua ini di bawah langit laut barat Bangka.

Wisata Religi Yang Terlupakan

Padahal Mentok memiliki potensi wisata sejarah besar yaitu pelabuhan tua, rumah kolonial, makam tokoh perang dunia dan masjid tua.

Dalam laporan pariwisata budaya oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, situs sejarah berbasis komunitas dinilai memiliki potensi besar untuk wisata religi dan edukasi.

Masjid Jami Mentok bisa menjadi pusat wisata religi Bangka Barat.

Namun minim papan informasi, dokumentasi dan promosi membuatnya belum dikenal luas.

Bangunan bersejarah di Mentok mulai rusak. Arsip hilang. Generasi muda tidak mengenal sejarah kota mereka.

Jika tidak dirawat, masjid tua ini bisa kehilangan konteks sejarahnya.

Sejarawan warisan budaya dalam kajian UNESCO menekankan bahwa pelestarian situs sejarah harus melibatkan masyarakat lokal agar nilai budaya tetap hidup.

Mentok membutuhkan itu.

Di tengah meningkatnya intoleransi di berbagai tempat, kisah Mentok menawarkan pelajaran.

Bahwa Islam di Nusantara tumbuh bersama budaya lokal.

Bahwa toleransi lahir dari kehidupan sehari-hari.

Bahwa masjid bisa menjadi pusat perdamaian.

Masjid Jami Mentok bukan hanya bangunan tua.

Ia adalah saksi perjalanan iman masyarakat Bangka.

Sore hari, azan Magrib kembali menggema. Lampu-lampu klenteng menyala merah di kejauhan.

Anak-anak bermain di halaman masjid. Orang tua duduk di serambi, bercerita tentang zaman dulu.

Masjid Jami Mentok berdiri diam.

Ia melihat kolonialisme datang dan pergi. Ia melihat tambang timah naik dan jatuh. Ia melihat generasi berganti.

Ia tetap berdiri di antara azan dan dupa sebagai saksi bahwa kota kecil di pesisir Bangka pernah menemukan cara hidup bersama.

Dan dari menara tuanya, suara azan masih memanggil manusia untuk pulang. (b5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!