Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Pagi Kamis (19/02/2026) masih basah oleh embun ketika azan Subuh menggema dari menara tua di jantung kota Mentok.
Suaranya melintas pelan di atas rumah-rumah kayu, ruko tua dan gang sempit yang dulu dilalui pedagang timah dan pelaut dari negeri jauh.
Tak jauh dari sana, asap dupa dari altar Klenteng Kong Fuk Miau masih mengepul tipis.
Di kota kecil di pesisir barat Pulau Bangka ini, suara azan dan bau dupa telah hidup berdampingan lebih dari satu abad.
Dan di tengah kota tua itu berdiri Masjid Jami Mentok, masjid tertua di Mentok yang bukan hanya saksi perkembangan Islam di Bangka, tetapi juga saksi perjalanan panjang toleransi dan perjumpaan peradaban di tanah timah.
Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, M. Ferhad Irvan, S.T., masjid ini dibangun tahun 1880 dan diresmikan 1883.
Masjid ini menjadi masjid pertama di Pulau Bangka yang dibangun menggunakan batu. Sebelumnya, tempat ibadah Islam hanya berupa surau kecil dari papan.
“Masjid ini menandai kemapanan masyarakat Muslim Mentok dan keinginan mereka menjadikan kota ini pusat spiritual,” ujar Ferhad Irvan.
Dalam catatan sejarah lokal yang dihimpun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Melayu Mentok dengan dukungan tokoh-tokoh saudagar.
Masjid ini bukan hanya rumah ibadah. Ia adalah pernyataan identitas.
Sejarah Islam di Bangka bukanlah sejarah yang datang tiba-tiba. Ia mengalir pelan bersama jalur perdagangan laut sejak abad ke-17 dan 18, ketika kapal-kapal dari Palembang, Riau, Johor, hingga Gujarat singgah di pesisir Bangka.
Dalam arsip kolonial Belanda yang diteliti oleh sejarawan Anthony Reid, disebutkan bahwa pelabuhan-pelabuhan kecil di Selat Bangka menjadi jalur penting perdagangan lada dan timah yang mempertemukan pedagang Muslim dari Nusantara dan Asia Selatan.
Mereka membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga kitab, tradisi dan doa.
Islam tumbuh melalui hubungan dagang, perkawinan, dan dakwah sederhana di kampung-kampung pesisir.
Namun bangunan masjid permanen baru muncul ketika masyarakat Muslim telah mapan secara ekonomi dan sosial.
Di Mentok, momentum itu datang pada akhir abad ke-19.
Demang dan Mimpi Kota
Masjid ini lahir dari visi seorang demang Mentok abad ke-19, Abang Muhammad Ali.
Sebagai pemimpin distrik sekaligus saudagar, ia banyak melakukan perjalanan ke Jawa, Semenanjung Melayu dan kesultanan di Sumatera.
Ia melihat bagaimana masjid menjadi pusat kota, tempat ibadah, pendidikan dan musyawarah.
Mentok, pelabuhan ramai timah, belum memiliki masjid megah.
Ia mengajak masyarakat membangunnya.
Dalam penelitian arsitektur kolonial oleh sejarawan Indonesia Denys Lombard, disebutkan bahwa kota pelabuhan Nusantara sering membangun masjid sebagai simbol kematangan sosial dan politik komunitas Muslim. Pola itu terlihat di Mentok.
Masjid Jami Mentok pun lahir dari mimpi kolektif masyarakat.
Pemilihan lokasi masjid menjadi langkah sosial yang cerdas.
Pada abad ke-19, masyarakat Melayu Mentok terbagi dalam beberapa kelompok keluarga besar di kampung-kampung berbeda. Jika masjid dibangun di wilayah tertentu, kelompok lain mungkin enggan datang.
Masjid akhirnya dibangun di titik netral.
Strategi ini menyatukan masyarakat.
Masjid menjadi tempat semua orang berkumpul, belajar agama, berdagang dan bermusyawarah.
Dalam studi antropologi Melayu Bangka oleh peneliti Universitas Bangka Belitung, disebutkan bahwa masjid di pesisir Bangka sering menjadi pusat integrasi sosial masyarakat Melayu.
Masjid Jami Mentok menjadi contoh paling nyata.
Di Antara Azan dan Dupa
Tak jauh dari masjid berdiri Klenteng Kong Fuk Miau, yang diperkirakan dibangun sekitar 1830. Kedua bangunan itu berdampingan hingga kini.
Bagi wisatawan, itu terlihat sebagai simbol toleransi.
Bagi warga Mentok, itu kehidupan sehari-hari.












