Berita

Jage Kelekak Kite: FOLU Goes To School dan Upaya Menyelamatkan Kebun Warisan Babel

97
×

Jage Kelekak Kite: FOLU Goes To School dan Upaya Menyelamatkan Kebun Warisan Babel

Sebarkan artikel ini

Oleh: Belva Al Akhab dan Satrio

BANGKA, Berita5.co.id — Di halaman SDN 09 Mendo Barat, di bawah bayang pepohonan tua yang menyimpan kisah lebih panjang dari usia pulau ini, puluhan anak duduk bersila.

Suasana pagi terasa seperti halaman pertama buku lama hening, harum tanah basah, dan cahaya matahari jatuh di wajah-wajah kecil yang belum tahu bahwa mereka sedang mengikuti satu peristiwa penting: sebuah upaya menyelamatkan kelekak, kebun warisan Melayu Bangka yang kini hilang diam-diam, senyap, seakan tak pernah ada.

Pada Sabtu (22/11/2025) itu, Yayasan Cakrawala Insan Sentosa (CIS) datang membawa program FOLU Goes To School 2025 bagian dari kerja sama Indonesia–Norwegia FOLU NIC Tahap 2 & 3, sekaligus dukungan terhadap agenda besar Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, target nasional untuk mencapai penyerapan karbon bersih di sektor kehutanan.

Tapi sesungguhnya, misi hari itu lebih dari sekadar pendidikan.

Yang ingin diselamatkan bukan hanya pepohonan melainkan akar identitas satu bangsa pulau.

Saat pemateri membuka tayangan keanekaragaman hayati kelekak, flora, fauna, akar, jamur, serangga, puluhan mata kecil menatap seperti baru menyadari bahwa dunia di sekitar mereka ternyata jauh lebih besar daripada rumah, sekolah, dan jalan menuju sungai.

“Aku pernah lihat pohon aren itu di belakang rumah nek!” teriak seorang siswa kelas empat, spontan dan polos.

Tawa kecil pun terdengar.
Namun sesaat kemudian ruangan berubah hening.

Fasilitator menampilkan citra udara kelekak yang hilang dalam sepuluh tahun terakhir ditelan lubang tambang, digelisahkan oleh perkebunan sawit, dikikis oleh laju pembangunan.

Anak-anak membisu bukan karena tidak mengerti, melainkan karena mereka mengenali lokasi-lokasi itu. Mereka hidup di dalam cerita yang sedang dipaparkan.

Ini bukan teori.
Ini rumah mereka.

Kelekak, kebun warisan yang ditanam nenek moyang sebagai sistem agroforestri lokal, kini tinggal sedikit.

Di beberapa tempat tidak lagi ditemukan bibit aren. Di desa-desa tertentu, penyadap muda semakin langka. Sebagian kelekak berubah fungsi; sisanya hanya nama tanpa wujud.

Program ini seakan mengembalikan ingatan itu membersihkannya dari debu tambang yang menutupinya selama bertahun-tahun.

Ada tiga materi inti dalam kegiatan FOLU Goes To School.

1. Observasi Flora dan Fauna: Ekologi sebagai Bahasa Pertama Alam

Saat seorang anak menunjuk capung dan bertanya,
“Ini tanda air di sini bagus, Pak?”
fasilitator hanya tersenyum dan mengangguk.

Di usia sekecil itu, mereka sebenarnya telah memahami apa yang hilang: air yang keruh, sungai yang dangkal, tanah yang tak lagi memegang akar.

2. Fungsi Ekologis dan Budaya: Kelekak sebagai Kisah Orang Tua Kita

Fasilitator bercerita tentang legenda Kelak Kek Ikak, folklore yang mengajarkan agar menebang hanya jika menanam kembali.

Anak-anak mendengarkan dengan takzim, seolah mendengar wasiat lama yang hampir terhapus.

Kelekak menghadirkan pelajaran bahwa alam tidak pernah berdiri sendiri; ia terikat pada ingatan, adat, dan garis keturunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *