Berita

Ichsan Mokoginta Dasin, Menjaga Ingatan Bangka Lewat Kata dan Tradisi Lisan

×

Ichsan Mokoginta Dasin, Menjaga Ingatan Bangka Lewat Kata dan Tradisi Lisan

Sebarkan artikel ini

Foto Ichsan Mokoginta Dasin. (Ist/AI)

 

Calon Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2027

Editor: Doi Ahada

PANGKALPINANG, BERITA5.CO.ID — Ada orang yang menulis untuk mengejar popularitas. Ada pula yang menulis karena merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga sesuatu agar tidak hilang ditelan zaman.

Ichsan Mokoginta Dasin, S.Ag, berada pada kelompok kedua. Lebih dari dua dekade, nama Ichsan melekat dengan upaya merawat sastra lisan, bahasa, sejarah dan kebudayaan Bangka Belitung.

Dari balik dunia jurnalistik, ia menjadikan kata-kata bukan sekadar produk pemberitaan, tetapi juga jembatan untuk membawa tradisi masyarakat Bangka kepada generasi berikutnya. Kini, perjalanan panjang itu memasuki babak baru.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka mengusulkan Ichsan Mokoginta Dasin sebagai calon penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) Tahun 2027 kategori Pelestari Sastra Lisan, khususnya atas dedikasinya terhadap Hikayat Amang Ikak dan Pantun Melayu Bangka.

Pengusulan tersebut sekaligus menjadi pengakuan atas sebuah perjalanan panjang yang tidak dibangun dalam satu atau dua tahun.

Ichsan lahir di Pangkalpinang, 6 Juli 1971. Bakat menulis tumbuh dari lingkungan keluarga.

Ibunya, almarhumah Salma, dikenal sebagai aktivis Kepanduan atau Pramuka, sementara ayahnya merupakan PNS Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Dari lingkungan keluarga itulah kepekaan terhadap kata, cerita dan kehidupan masyarakat berkembang.

Jejak kepenulisannya bahkan sudah dimulai ketika masih menjadi mahasiswa. Pada 1990, Ichsan menjadi kolomnis sastra di Sriwijaya Post dan Sumatra Ekspres, dua media besar di Palembang ketika itu. Ia juga aktif di majalah kampus GETAR atau Gema Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang.

Dunia jurnalistik kemudian mempertemukannya dengan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kecintaannya terhadap sastra dan budaya lokal.

Dari Rubrik Budaya Menuju Amang Ikak

Tahun 2000 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Ichsan.

Saat menjadi Redaktur Budaya Harian Suara Bangka, ia mulai secara serius menghimpun dan memberikan ruang kepada penulis lokal yang mengangkat sastra lisan, mulai dari Kisah Pak Udak, Gurindam 11, Gurindam Abad 21, cerita rakyat, legenda hingga cerita misteri.

Perjalanan itu berlanjut ketika ia menjadi Redaktur Budaya Mingguan Bangka Ekspres.

Kemudian pada 2002, Ichsan bergabung dengan Harian Pagi Bangka Pos. Di media inilah kiprahnya dalam sastra lisan Bangka berkembang semakin kuat.

Ia melahirkan dua rubrik yang kemudian dikenal luas masyarakat Bangka Belitung, yakni Hikayat Amang Ikak dan Pantun Melayu Bangka atau Bujang Besaot.

Hikayat Amang Ikak merupakan syair berbahasa Melayu Bangka dengan tokoh penutur bernama Amang Ikak. Narasinya satiris, jenaka, terkadang tajam, namun dekat dengan kehidupan masyarakat.

Tokoh tersebut terinspirasi dari Mat Tahe, tokoh pandir dari Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, yang dikenal memiliki tradisi bersyair tentang kemalangan, sindiran, nasihat dan kelucuan kehidupan.

Ichsan kemudian menghidupkan kembali karakter dan tradisi tersebut melalui tokoh Amang Ikak. Hasilnya bukan sekadar rubrik sastra.

Hikayat Amang Ikak menjadi fenomena di media cetak. Berdasarkan rekam jejak yang diajukan dalam pencalonan AKI, rubrik tersebut bahkan ikut mendongkrak oplah Edisi Minggu Bangka Pos dari sekitar 4.000 eksemplar menjadi 12.000 eksemplar.

Lebih jauh lagi, gaya penulisan tersebut kemudian menginspirasi munculnya penulis-penulis baru di Bangka Belitung, baik melalui media cetak maupun media sosial.

Pada 2013, Hikayat Amang Ikak direkomendasikan sebagai salah satu bentuk Sastra Lisan Bangka Belitung dalam Temu Sastra Lisan yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dari Media ke Panggung Nasional

Dedikasi Ichsan tidak berhenti di halaman koran. Pada 2018, bimbingannya ikut mengantarkan Diah Hadaning Paras Widhara, siswi SD Negeri 1 Mendo Barat, Kabupaten Bangka, meraih Juara II Nasional FLS2N SD melalui syair bergaya Hikayat Amang Ikak berjudul “Tujuh Likor”.

Prestasi tersebut menjadi catatan tersendiri karena membawa tradisi syair Bangka Belitung ke panggung nasional.

Ichsan kemudian dipercaya hadir dalam berbagai forum kebudayaan nasional, mulai dari Kongres Kesenian Indonesia, Kongres Kebudayaan, Pekan Sastra Nasional hingga Temu Sastra Nasional.

Ia juga menjadi kontributor dan validator dalam penyusunan Kamus Bahasa Indonesia-Melayu Bangka oleh Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Menemukan Pakem Pantun Melayu Bangka

Jika Hikayat Amang Ikak menjadi salah satu identitas yang melekat pada namanya, maka Pantun Melayu Bangka merupakan bidang lain yang memperlihatkan ketekunan Ichsan dalam menggali kebudayaan lokal.

Selama hampir satu dekade mengasuh rubrik Pantun Melayu Bangka di Bangka Pos Group, ia tidak hanya mempublikasikan pantun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!